1

Akankah Konsumsi Kita Menjadi Bencana Untuk Alam?

Posted by saniatu.aini10 on 20 September 2013 in Academic, IPB, konsumen, nyawa, Tuhan |

Alam dan kita memiliki hubungan spesial nan erat. Alam bagaikan wadah yang mampu memfasilitasi kebutuhan kita sebagai manusia. Alam dengan fasilitasnya yang mewah, menawarkan berjuta kenikmatan yang tiada taranya dan tiada duanya. Apapun yang kita inginkan, sudah PASTI tersedia di alam. Oksigen yang tiada hentinya masuk dan memberikan kita kesempatan untuk hidup, begitupun dengan tumbuhan dan hewan. Hingga ketika usia sekolah kita mengenal apa yang dinamakan rantai makanan.

Rantai makanan, dengan siklusnya yang selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan. Ya, KESEIMBANGAN, keseimbangan yang tercipta untuk kita dan kelangsungan hidup kita. Tapi, kenapa dengan begitu tanpa dosanya, justru kita sendiri yang menghancurkan semua keseimbangan yang tercipta sempurna dan dipersembahkan khusus untuk kita. Kita telah lama merusak siklus keseimbangan itu.

Hidupnya manusia tentu saja memerlukan pengorbanan nyawa. Nyawa makhluk hidup lain, yang dengan keikhlasan dan kepasrahannya merelakan dirinya mati untuk kehidupan kita. Pernahkah kita menghitung berapa banyak sayuran, tumbuhan, buah-buahan, dan hewan yang mati berkorban untuk kelangsungan hidup kita? Pengorbanan yang diwujudkan dalam sajian enak yaitu makanan. Berapa liter air yang kita pakai untuk mandi, mencuci, hingga minum selama ini. Berapa banyak logam-logam dan minyak bumi yang habis terkeruk untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar, berkendara, hingga gadget yang sangat lekat dengan genggaman tangan kita? Tentu jawabannya banyak dan sangat banyak. Saking banyaknya, kitapun lupa menghitung bahkan cenderung abai atas apa-apa yang telah kita konsumsi yang semuanya itu kita peroleh dari alam.

Nyawa yang dikorbankan, bukan berarti kita hentikan untuk tidak menambah korban selanjutnya, hanya demi kelangsungan hidup kita. Hanya saja, ketika alam telah memberikan begitu banyak kemewahannya, ingatkah kita untuk setidak-tidaknya berusaha melakukan langkah kecil untuk menjaga keseimbangan alam kita. Karena kunci terkecil yang paling mudah untuk mengendalikan semua ini hanya satu, ya hanya satu. MENGENDALIKAN KONSUMSI. Hingga Mahatma Gandi mengatakan bahwa bumi ini mampu memberikan makan semua manusia di dunia, tetapi bumi tidak mampu memberi makan satu orang yang rakus.

Perubahan jaman yang begitu pesat, mobilitas manusia yang semakin meningkat, hingga perkembangan ilmu pengetahuan yang mengantarkan kita pada percepatan perubahan-perubahan yang sangat pesat. Maka timbulah keinginan untuk memiliki power “I’m thinking therefore I’m” (Descartes). Kini, kita melihat sendiri semua dampak akumulasi atas keinginan yang mengantarkan kita pada status kekuasaan yang melahirkan penghormatan manusia.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang pesat nan tinggi, kini merupakan impian semua negara. Baik itu negara yang nyata-nyatanya telah maju begitupun negara berkembang yang memiliki impian untuk masuk ke dalam lingkaran negara-negara maju. Tapi akankah pertumbuhan ekonomi merupakan fokus utama suatu keberhasilan dan kesejahteraan? Bukankah dengan semakin tingginya status ekonomi seseorang maka berbanding lurus dengan “will to power” untuk menguasai semua aset-aset fisik, dimana penguasaan aset fisik inilah yang melahirkan perilaku konsumsi tinggi.

Semakin tinggi status sosial, biasanya  berbanding lurus dengan semakin tingginya  keinginan penghormatan yang ditunjukan pada dirinya. Penghormatan termudah akan lahir ketika orang lain melihat keberhasilan aset fisik yang dimiliki. Naiknya jabatan  secara otomatis akan merubah pola konsumsi seseorang. Contohnya tidak cukup dengan sepeda motor, maka timbulah keinginan untuk memiliki mobil. Celakanya setelah memiliki mobil kepuasaan itu tidak terhenti begitu saja, lahirlah keinginan untuk memiliki mobil yang lebih bagus nan mahal. Belum puas dengan jumlahnya yang hanya terparkir satu di garasi, maka timbulah keinginan untuk mengoleksi mobil-mobil lainnya. Begitupun dengan rumah. Tidak puas memiliki rumah di suatu daerah, maka untuk meningkatkan status sosial dibelilah rumah-rumah lain yang mungkin saja jaraknyapun saling berdekatan atau bahkan berjauhan.

Alhasil, jalan raya kini macetnya semakin membuat pusing kepala. Karena orang-orang dengan alasan tingginya “mobilitas” sibuk untuk pamer berkendara. Tidak hanya berkendara, karena alasan investasi yang menggiurkan karena nilai jual yang selalu meningkat, lahan-lahan kosong yang ditumbuhi pohon hingga lahan persawahan, dibabat habis untuk ditanami hunian-hunian. Padahal sebanyak apapun mobil yang kita punya, sesungguhnya kita hanya membutuhkan satu mobil saja untuk kita kendarai. Selebihnya, untuk sementara menjadi penghias cantik garasi. Begitupun dengan rumah. Seluas dan sebanyak apapun rumah yang kita punya, kita hanya membutuhkan beberapa meter saja untuk beristirahat (tidur) dan hanya satu tempat saja yang kita butuhkan. Tentu Anda tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya Anda menggunakan semua kamar pribadi pada rumah-rumah yang Anda punya, pada satu malam. Tentu Anda akan menjawab, sebenarnya hanya satu kamar tidur pada satu rumah saja yang dapat Anda gunakan untuk beristirahat.

Indonesia Kita

Rakyat kita menjerit dan memaki pemerintah ketika harga BBM melambung begitu tinggi. Padahal semua makian dan jeritan yang terlontar, tidak lain hanya alasan manis untuk membela perilaku boros kita agar dapat terus berlangsung dengan mulus dan murah. Melambungnya harga BBM seakan angin lalu yang menjadi pengingat perilaku buruk konsumsi kita. Mudah dan murahnya kredit kendaraan bermotor kini membuat masyarakat kita kalap untuk terus meningkatkan aset fisik yang nampak dan terlihat jelas oleh mata, dengan alasan lain yang tersembunyi, meningkatkan status sosial dan penghormatan.

Rumitnya, harus kita akui bersama bahwa negara kita tidak ramah untuk transportasi umum yang nyaman. Sehingga orang-orang kalangan atas cenderung memilih untuk berkendara dengan kendaraan pribadi, ditambah lagi peliknya kejahatan yang kerap kali terjadi di dalam kendaraan umum yang harus kita akui bersama, kejahatan itu lahir dari masyarakat kita sendiri dengan alasan ekonomi.

Jika kita berkaca pada negara-negara maju, pun negara maju penghasil kendaraan-kendaraan bermotor. Mereka justru lebih memanfaatkan transportasi umum untuk bepergian, dan transportasi umum itu adalah kereta yang nyata-nyatanya memiliki jalur khusus yang tidak menimbulkan kemacetan yang membuat pusing kepala. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pemerintah kita atas gempuran kendaraan-kendaraan bermotor yang dapat diperoleh dengan cicilan mudah dan murah. Karena, negara-negara maju akan menutup untuk memberikan pinjaman uang, jika kita meminjam untuk membangun transportasi umum (kereta api) tetapi yang terjadi sebaliknya, jika negara kita meminjam untuk menambah luas jalan tol atau jalan raya. Singkatnya, jika jalan raya diperluas maka akan terjadi peningkatan pembelian kendaraan bermotor, dimana kendaraan bermotor tersebut diimpor langsung dari negara-negara maju guna meningkatkan PERTUMBUHAN EKONOMI mereka.

Belum lama ini bahkan mungkin menjadi masalah klasik ketika harga kedelai tinggi. Kedelai yang menjadi bahan pokok untuk membuat tahu dan tempe. Sederhananya, tahu dan tempe merupakan pangan universal yang mudah dan murah untuk dikonsumsi rakyat kita. Sayangnya, kedelai yang dipakai sebagai bahan pokok tahu dan tempe tersebut masih berstatus IMPOR.

Sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fokus utama di bidang pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) sering dipertanyakan perannya. Seakan-akan IPB tidak memberikan solusi atas semua masalah kerumitan pertanian yang terjadi di negri ini. Padahal, salah satu dosen Fakultas Pertanian telah mempresentasikan temuannya di depan pemerintah, bahwa sebenarnya kita mampu menghasilkan kedelai yang memiliki kualitas sama dengan kedelai yang selama ini kita impor. Namun, penelitian tetaplah penelitian dan proposal tinggalah proposal. Karena menurut hitung-hitungan pada kenyataannya, keuntungan dari impor kedelai begitu menggiurkan, dan keuntungan yang jumlahnya milyaran itu sungguh sangat lumayan untuk masuk kantong dan “mungkin” untuk dana kampanye dan pembiayaan partai.

Begitu pelik dan runyamnya semua permasalahan antara kita dan alam. Namun pengendalian dari dalam dirilah yang mampu setidak-tidaknya untuk tidak mempercepat kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi kita. Air yang kita gunakan, tumbuhan dan hewan yang kita makan semuanya telah begitu mewah Tuhan hadirkan melalui alam untuk kelangsungan hidup kita. Konsumsilah seperlunya dan secukupnya, seperti yang telah diajarkan oleh agama.

Berikan cinta kita pada alam, maka alam akan memberikan cintanya pada kita

-Opi Andaresta-

Bogor, 18 September 2013

 

Terima kasih banyak untuk bapak Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan. MSc

Untuk kuliah Ekologi Manusia yang membuat kita sebagai manusia

menyadari betul hubungan manusia dan alam, yang tidak selamanya berlangsung baik

dan membuat kita berpikir untuk melakukan dan memberikan yang terbaik untuk alam.

Khususnya untuk alam kita, Indonesia.

 

2

Perempuan Dalam Ranah Publi Mengapa Tidak

Posted by saniatu.aini10 on 24 January 2013 in gender, keluarga, perempuan |

Perempuan dan laki-laki, manusia berjenis kelamin berbeda yang dicipta Tuhan dengan kodrati yang tidak dapat diganti, tetapi peran antara perempuan dan laki-laki sudah seharusnya saling melengkapi. Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah perempuan kini telah mendapatkan porsi untuk mengaktualisasi diri? Apakah emansipasi yang digaungkan R.A Kartini telah membawa perubahan signifikan, hingga perempuan dan laki-laki Indonesia kini tidak dbeda-bedakan dengan stereotype yang nyatanya kini telah tertanam dan melekat kuat pada pemikiran masyarakat kita, hingga tidak jarang posisi-posisi tertentu hanya diperuntukan untuk jenis kelamin tertentu saja.

            Berbicara jenis kelamin, tentun nyatanya berbeda apabila kita membicarakan masalah peran yang kini masih menjadi permasalahan bias yang ada pada masyarakat kita. Istilah gender saja masih dikonotasikan negatif, seakan-akan ketika berbicara gender maka identik dengan berbicara mengenai penolakan-penolakan dan pemberontakan-pemberontakan kaum perempuan dalam menghadapi ketidak adilan. Perempuan yang menggaungkan gender ‘masih’ dipandang sebagai perempuan yang tidak menerima kodratnya, menerima kodrat yang nyata-nyatanya diberikan Tuhan berbeda antara satu yang lainnya. Masih banyak masyarakat yang memiliki anggapan bahwasannya tugas seorang perempuan hanya berkutat pada permasalahan domestik, meski kita tahu nyatanya kini ada banyak kesempatan yang diberikan kepada perempuan utamanya dalam hal pendidikan yang membuka pintu lebar untuk perempuan mengoptimalkan potensinya. Tetapi akankah perlakuan ‘bebas’ akan perempuan dapatkan kembali setelah perempuan memasuki dunia rumah tangga, pun dengan budaya patriarki masyarakat kita yang masih tertanam kuat?.
            Menurut Puspitawati, 2012 terdapat delapan contoh posisi perempuan dalam konteks budaya
1.      Peran perempuan adalah di sektor domestik: peran laki-laki adalah sebagai pemimpin dan pelindung keluarga, jadi bertanggung jawab dan berperan di sektor publik.
2.      Stereoptipe berdasarkan adat diidentikan dengan peran sebagai berikut:
a.       Peran perempuan adalah di “dapur/masak, kasur/manak, pupur/macak” (dapur untuk menyediakan makanan dan kegiatan domestik; kasur untuk memuaskan kebutuhan seksual dan regeneratif keluarga, dan pupur/dandan untuk kebutuhan memuaskan kebutuhan seksual suami).
b.      Posisi perempuan sebagai “konco wingking” (orang belakang) dan orang nomor dua dalam pengambilan keputusan dalam keluarga.
c.       Peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga dan tulang punggung keluarga.
d.      Laki-laki tabu melakukan pekerjaan domestik seperti cuci piring, cuci baju dan memasak, karena itu “pekerjaan perempuan”. Laki-laki yang bersedia melakukan pekerjaan perempuan dikhawatirkan dapat menurunkan derajat dan kewibawaan sebagai pemimpin dalam keluarga.
e.       Pendidikan diutamakan untuk laki-laki daripada perempuan, karena hal ini berkaitan dengan posisi laki-laki yang lebih utama dibandingkan perempuan. Adat menganggap perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi karena “percuma saja, akhirnya toh ke dapur juga”.
(1)   Perempuan sering dilekatkan pada profesi tertentu seperti perawat, sekertaris, guru TK dan sejenisnya.
(2)   Laki-laki sering dilekatkan pada profesi direktur, pilot, dokter, dan lain-lain.
(3)   Perempuan sering ditakut-takuti tidak boleh menempuh pendidikan terlalu tinggi karena takut akan menjadi perawan tua (disamping takut keasyikan menempuh dunia pendidikan dan pekerjaan profesional, juga dikhawatirkan laki-laki akan takut dan minder untuk mendekati perempuan yang pintar dan cerdas).
(4)   Laki-laki tidak boleh mempunyai istri yang mempunyai pendidikan dan kedudukan sosial yang lebih tinggi dari dirinya.
3.      Perempuan adalah simbol dari eksistensi harmonisasi rumah tangga, keterjaminan kualitas Sumber Daya Manusia anak (kognitif, budi pekerti dan perilaku sosial), keterjaminan pengaturan rumah, dan ketersediaan pangan keluarga.
4.      Posisi perempuan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepemilikan aset, penentuan pendidikan anak, peminjaman kredit dan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan suami adalah lemah. Posisi perempuan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pekerjaannya sendiri juga lemah.
5.      Posisi perempuan dalam pengambilan kerja juga lemah. Perempuan cenderung menerima dan berkompromi dengan suami dan keluarga besar untuk diberikan posisi dalam aspek domestik sesuai dengan anjuran budaya. Namun demikian, pengambilan keputusan dalam pekerjaan domestik seperti memasak, dekorasi rumah, penataan rumah adalah dominan karena masih domain perempuan.
6.      Posisi perempuan dalam manajemen keuangan keluarga (perencanaan, penggunaan, dan pengendalian keuangan) adalah lemah. Telah diakui memang ada sebagian perempuan yang mempunyai posisi kuat dalam managen keluarga. Namun, masih banyak perempuan yang tidak mempunyai posisi kuat. Biasanya perempuan yang tidak kuat posisinya adalah perempuan yang tidak bekerja dan pendidikannya rendah.
7.      Pada umumnya, rata-rata lama pendidikan yang ditempuh perempuan adalah lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata lama pendidikan yang ditempuh laki-laki.
8.      Posisi perempuan dalam melindungi kesehatan reproduksi juga lemah. Hal ini tercermin dari banyaknya konseptor keluarga berencana (KB) masih didominasi oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki.
Jika perempuan memiliki kapasitas untuk turut serta dalam ranah publik, lantas mengapa tidak diberikan kesempatan. Hal ini selaras dengan pendapat Dankelman dalam Mugniesyah, 2006. Menurut Dankelman, baik laki-laki maupun perempuan (termasuk anak-anak) berkontribusi baik berupa enersi, perspektif, waktu, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan teknologi budidaya untuk mengelola ecosphere dan menghasilkan produk darinya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Laki-laki dan perempuan memainkan peranan kunci dalam menciptakan keseimbangan. Dimana HDI (Human Development Index) yang merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu negara yang mengukur tiga aspek yaitu Life Expectancy, Infant Mortality Rate, dan Food Security. Sejak 1995, ditambah lagi dengan konsep kesetaraan gender (gender equality)
a.       GDI (Gender relatid Development Index) yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam usia harapan hidup, pendidikan, dan jumlah pendapatan.
b.      GEM (Gender Empowerment Measure) yang mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik, dan beberapa sektor lainnya.
Melihat indikator-indikator tersebut jelaslah sudah, jika permasalahan gender yang masih sering dilihat sebelah mata, bahkan dianggap pemberontakan yang tidak seharusnya, justru sebenarnya menawarkan suatu solusi kongkrit guna keberhasilan pembangunan suatu negara. Lantas apa jadinya jika hanya satu jenis kelamin saja yang “hanya” diberikan kesempatan.
      Pemerintah dalam hal bukan tanpa upaya untuk meningkatkan peran perempuan dalam hal pembangunan. Dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993 yang menyatakan bahwa wanita, baik sebagai warga Negara maupun sebagai Sumber Daya Manusia dalam pembangunan, memiliki hak dan kewajiban serta kesempatan sama dengan pria dalam pembangunan segala bidang. Pembinaan peranan perempuan sebagai mitra sejajar laki-laki ditunjukan untuk meningkatkan peran aktif dalam kegiatan pembangunan, termasuk upaya mewujudkan keuarga sehat, sejahtera, dan bahagia serta pengembangan anak, remaja, dan pemuda dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya (Djakarsi, 2010).
      Menurut Djarkasi (2010) terdapat lima kondisi dasar untuk mencapai citra perempuan ideal yang harus diperhatikan, antara lain: kondisi biologis, kondisi Psikologis, kondisi sosial budaya, kondisi edukatif, dan kondisi eksistensial. Melihat hal tersebut untuk mempersiapkan perempuan berada pada ranah publik bukanlah tanpa mempertimbangkan hal-hal yang sifatnya kondisional. Kodrati seorang perempuan tentu berbeda jelas dengan kodrati seorang laki-laki dimana dari seorang perempuanlah rujukan-rujukan dalam keluarga hadir dan menjadi pertimbangan penting, utamanya dalam hal pengambilan keputusan. Oleh karena itu berawal dari keluargalah yang disana perempuan memiliki peranan penting (domestik) menjadikan keluarga sebagai basis pencapaian tujuan-tujuan pembangunan di masyarakat dan Negara.
      Hal ini dipertegas dan diperjelas dalam GBHN 1999-2004 dan UU Nomor 25 Tahun 2000 terkait dengan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) 2000-2004, dalam rangka mewujudkan kemitra sejajaran laki-laki dan perempuan dalam pembangunan atau dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, perlu dikembangkan kebijakan nasional yang responsif gender. Dimana untuk mencapai tujuan tersebut terdapat dalam strategi Pengarus Utamaan Gender (PUG) yang termuat dalam Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarus Utamaan Gender (PUG). Bukankah hal ini digambarkan Bubolz & Sontag (1993) terkait dengan interaksi keluarga dengan lingkungannya. Jika melihat ini semua, masihkah perempuan dibatasi jika ia memiliki keinginan dan mampu untuk berkiprah di ranah publik?.
Daftar Pustaka
Djarkasi A. 2010 Kemitrasejajaran Gender: Pria dan Perempuan dalam Pembangunan. Jurnal Akrab, 4, 32-37.
Mugniesyah S. 2006. Ekologi Manusia: Gender, Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan. Bogor: PT. FEMA Adv, Tbk.
Puspitawati H. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor: PT Penerbit IPB Press.

0

Gender dan Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Posted by saniatu.aini10 on 24 January 2013 in gender, perempuan |
Entah kenapa saya enggak pernah bosen nonton film yang satu ini. Film Indonesia yang bagus terutama untuk perempuan, tapi entah kalau pendapat laki-laki soalnya pas saya nonton film ini barengan ayah,saya bilang “Filmnya bagus kan?” dan ayah saya cuman jawab “Iya bagus, tapi buat perempuan”. Ya, apakah film ini hanya akan benar-benar dinikmati oleh seorang perempuan, padahal film tersebut karya seorang laki-laki.
Sebenernya ceritanya itu simple banget, ya ceritanya nyeritain cerita-cerita perempuan yang ada di sekitar kita. Tokoh utamanya Jajang C Noer yang berperan sebagai dokter kandungan yang gigih dan konsen terhadap permasalahan-permasalahan perempuan, utamanya permasalahan-permasalahan perempuan yang dialami oleh pasien-pasiennya. Enam pasien yang diceritakan memiliki permasalahan yang berbeda-beda, ada yang KDRT hingga akhirnya ia meninggal, masih SMP tapi udah hamil, kanker rahim karena berprofesi sebagai PSK, susah punya anak karena kelebihan berat badan padahal ia punya suami yang baiiiiikkkk banget dan sayaaaang banget sama dia, wanita karir yang berambisi punya anak laki-laki karena bagi dia kehamilan merupakan reputasi dan jika ia tidak melahirkan anak laki-laki maka ia lebih memilih untuk menggugurkan kandungannya, dan buruh pabrik konveksi yang setelah lima tahun menikah baru hamil. Dokter Kartini sendiri belum menikah karena cerita cinta masa lalunya yang membuat dia benar-benar kecewa dan segan menikah, meski ada dokter kandungan juga yang nyata-nyatanya mencintai dokter Kartini dan hendak menikahinya, tapi dokter Kartini menutup hati untuk hal satu ini.
Jika dilihat awal-awal ceritanya, ceritanya selalu menggambarkan kalau perempuan itu selalu menjadi korban ‘laki-laki’ utamanya ketika bagian yang menceritakan pasien yang mengalami KDRT. Juga pasien lainnya yang semuanya berada pada posisi korban. Poligami diam-diam yang dilakukan laki-laki tanpa sepengetahuan istri pertama (wanita karir ambisius & buruh konveksi), ya, tentunya poligami yang dilakukan laki-laki bukan tanpa alasan. Wanita karir ambisius memiliki karakter yang benar-benar menganggap rendah suaminya (saya sendiri ngelihat karakter wanita ini malesin juga, pantesan suaminya nyari istri lain) dan ya meski wanita karir itu digambarkan sebagai sosok wanita modern masa kini yang sangat cantik dan ambisius tapi suaminya justru malah menikah lagi dengan perempuan yang memiliki karakter dan kemasan yang berbeda dengan istrinya. Ya, suaminya memilih untuk menikah lagi dengan seorang perempuan yang sangat gendut, suka memasak, dan humoris (karakter ini yang tidak ia temukan pada istri pertamanya yang terlalu banyak menuntut ini-itu), dan buruh konveksi yang dipoligami karena susah hamil, padahal ia digambarkan sebagai sosok wanita sholehah dan tipe wanita yang sangat penurut pada suami, tapi eh karena kelamaan enggak hamil suaminya malah memilih wanita yang ya ampun dandanannya itu lho Trio Macan banget.
Film ini berusaha secara halus menyentil keadaan perempuan-perempuan Indonesia yang selalu diposisikan sebagai korban laki-laki. Film yang sangat identik dengan permasalahan gender yang sering kali permasalahan gender ini merupakan permasalahan yang malesin banget buat dibahas oleh sebagian masyarakat kita, meski ia sendiri seorang perempuan. Gender seakan-akan dianggap angin lalu yang kayaknya dianggap enggak penting sama sekali buat dibahas apalagi diperdalam, padahal permasalahan gender sendiri bukan permasalahan sepele, kalau iya enggak perlu dibahas, lantas kenapa permasalahan gender dari dulu sampai sekarang masih belum terselesaikan.
Ketika perempuan berbicara gender yang sangat disayangkan perempuan itu dianggap perempuan yang pemberontak yang dianggap enggak seharusnya perempuan bertingkah seperti itu, bahkan tidak segan-segan buru-buru dicap sebagai seorang feminis yang menyalahi norma dan agama tanpa tahu-menahu apa yang melatar belakangi perempuan tertarik dan tergugah untuk membahas permasalahan-permasalahan gender, ya, apakah masyarakat kita terlalu egosentris dalam memandang seorang perempuan, sehingga perempuan semuanya dianggap sama?.
Berbicara gender memang selalu identik dengan feminis, hal itu tidak bisa kita pungkiri. Feminis sebenarnya hanya ingin mewadahi perempuan tipe ke tiga, perempuan yang dengan karakter dan kemampuannya memandang dirinya sama mampunya dengan seorang laki-laki, tetapi yang menjadi permasalahannya feminis begitu membenci institusi keluarga dan pernikahan itu dianggap sebagai penjara yang memenjarakan kaum perempuan dan jika pernikahan tetap terjadi maka pernikahan itu hendaknya seperti pernikahan homoseksual dimana peranan harus bisa 50:50 dan tidak ada kepala keluarga di sana, keduanya SAMA.
Hal inilah yang secara tidak langsung menjadikan keresahan tersendiri bagi masyarakat kita, utamanya masyarakat kita yang memegang teguh budaya Patriarki. Sehingga sangat wajar apabila seorang perempuan dianggap ‘aneh’ atau ‘pemberontak’ jika mencoba menyentil permasalahan-permasalahan gender. Padahal jelas karakteristik wanita Indonesia berbeda jauh dengan karakteristik wanita Barat. Ketika wanita Indonesia ingin mencoba keranah publik bukan berarti ia ingin menandingi suaminya, tetapi ia hanya ingin mengaktualisasi diri TANPA melupakan prioritas utama yaitu keluarga. Bahkan mungkin kebanyakan wanita Indonesia merupakan tipe ke 1 dan ke 2, dan ya lagi-lagi karena ‘masih’ kebanyakan wanita Indonesia tipe ke 1 dan ke 2 wanita kita pun masih banyak yang sungkan untuk berbicara masalah gender, yang perlu saya tekankan di sini gender yang dapat diterapkan di Indonesia adalah aliran Harmonisasi Gender, dimana Patriarki tidak dirobohkan justru diperkuat dengan cara memperbaiki kecacadan-kecacadan yang masih banyak terjadi dimana masih banyak laki-laki yang menjadikan Patriarki sebagai alibi untuk berlaku sewenang-wenang terhadap perempuan.
Kembali ke film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita
Film tersebut hanya berusaha menyadarkan kita, ya itu saja. Agar kita tidak terlena bahkan menutup mata atas permasalahan-permasalahan wanita yang nyatanya hingga detik ini masih menjadi permasalahan serius yang harus kita benahi bersama. Saking seriusnya permasalahan gender ini, permasalahan gender diangkat dalam MDGs poin ke tiga yang sangat diupayakan akan tercapai pada tahun 2015.
Lantas jika melihat hal ini semua masihkah permasalahan gender merupakan permasalahan yang sangat tidak penting untuk dibahas bahkan untuk dicoba untuk dibenahi bersama?.

0

Anak Kecil yang Keburu Puber Duluan

Posted by saniatu.aini10 on 24 January 2013 in anak, keluarga, komunikasi, siswa |
Sering banget enggak sih kita ketawa-ketawa geli pas ngeliat anak SD udah ngomongin cinta hingga mengenal yang namanya ‘pacaran’. Ya, hari gini kayaknya udah bukan hal yang aneh lagi kala anak SD udah ngomongin cinta. Kita bisa dengan mudahnya berasumsi mereka kayak gitu karena pengaruh lingkunganlah, media, dan gadget canggih yang pastinya anak sekarang bisa dengan mudahnya konek ke internet, pun banyak banget alesan-alesan lain yang ujung-ujungnya itu semua karena ya…emang zamannya udah kayak gini jadi ya itu sangat ‘wajar’.
Well, zaman sekarang emang udah serba canggih buat dapetin berbagai informasi yang kita mau. Informasi apapun..ya apapun, dari informasi yang penting banget sampai yang sampah sekalipun itu ada, tinggal googling terus enter dan ya, kamu dapetin informasi apa yang kamu mau, begitupun dengan anak-anak sekarang. So, enggak heran tantangan orangtua masa kini jauh lebih besar dibandingkan dengan tantangan orangtua-orangtua kita dulu. Pertanyaannya, ketika suatu saat nanti kita yang masih muda ini bakalan jadi orangtua, siapkah kita, mendidik anak kita di zaman yang tentunya lebih-lebih canggih lagi dari sekarang?.
Beberapa hari yang lalu saya baru tau kalau di koran ada berita dengan judul yang beneran menggelitik Putus Cinta Anak SD Mau Bunuh Diri. Apa ya, disatu sisi itu berita seakan konyol banget, lha masa iya putus cinta ampe segitunya, dan yang bikin heran lagi ini anak SD lho, anak SD yang jalannya masih panjang banget. Lha kalau putus harapan hidup apalagi alesannya karena cinta, ampun kok jadi kesannya itu pikirannya ya sempit banget, lha masa sih cinta terakhirnya mentok pas bangku SD? Kan masih ada SMP, SMA, Kuliah, Kerja yang dengan pergaulan yang lebih luas tentunya kita bakalan ‘lebih cerdas’ lah ya buat lebih selektif memilih cinta terakhir yang berarti pasangan hidup. Ini?????.
Fenomena ini emang yang paling bikin saya bergidik ngeri. Sejujurnya hal ini biasa banget saya temui dilapangan, apalagi pas saya turun lapang ke desa-desa, meski hal yang saya temui enggak separah sampe mau ada kasus bunuh diri segala. Waktu SD saya emang paling bingung kalau orang ngomongin cinta, meski ada beberapa temen saya yang mulai malu-malu suka ceng-cengin cowo di kelas, tapi saya enggak ngerti apa menariknya cowo apalagi kalau buat dijadiin pacar, kan kalau mau deket sama cowo lha bukannya kita juga biasa main-main bareng, ya apa itu enggak cukup, dan ya saya baru ngerti masalah begitu pas SMP dimana saya ngedapetin menstru pertama.
Waktu di desa palingan pas turun lapang itu yang dibikin ribet temen saya yang handle anak kelas lima dan kelas enam. Di mana temen saya yang megang kelas enam dan lima itu emang laki-laki, utamanya temen saya yang megang kelas enam itu. Kita semua mengakui, kalau dia punya wajah yg kece parah apalagi dia anak D3 yang terbiasa pake pakaian rapih ala eksmud-eksmud ganteng, so…bukan hanya ibu-ibu sekampung yang sering banget ngirimin salam, tapi murid-murid dia juga sampe klepek-klepek dan caper-caper gitu (cerita selengkapnya di sini), dan fenomena ini kembali saya temui ketika turun lapang ke desa lainnya, dimana hal-hal ini merupakan hal yang sangat menarik untuk saya amati, selain bagaimana pola asuh yang diterapkan orangtua.
Awalnya saya mengira kalau anak kecepetan puber itu pengaruh besarnya karena media, utamanya sinetron-sinetron enggak mutu yang entah dengan alasan apa terus-terusan diputer di TV. Saya jadi bingung, sinetron kaya gitu itu emang ada konsumennya ya, atau penguasa media dengan sengaja membentuk perilaku konsumen seperti yang mereka mau, dan ya, pikiran ini berubah ketika ayah saya merekomendasikan agar saya nonton film Melody, film yang sangat jadul ini emang jadul banget tapi kata ayah film ini film yang sempat heboh mau dijadikan film abadi layaknya Sound of Music dan Ben Hur. Melody merupakan film yang punya cerita sederhana tapi menyentil buat para pendidik dan orangtua, dan ternyata fenomena anak kecepetan puber ini emang udah ada dari dulu yang kita tahu tahun 1971 media dan gadget enggak secangggih sekarang, boro-boro internet komputer aja masih langka banget yang make.
Intinya Melody nyeritain cinta monyet anak SD kelas 4. Rasa suka itu ya lahir dengan cara alamiah, lahir begitu saja dan mengalir. Enggak ada tuh pengaruh media elektronik apalagi internet. Parahnya percintaan anak SD ini (Daniel dan Melody) sampai berasa cinta mati yang harus diwujudkan dengan ikatan yang sah alias pernikahan. Tentunya keinginan kuat mereka untuk menikah bikin panik orangtua dan guru satu sekolahan, bahkan mereka kabur (bolos/cabut dari kelas) untuk melangsungkan pernikahan dan mengundang teman-teman sekelas, meski akhirnya ulah mereka ketahuan juga dan kena grebeg guru satu sekolahan.
wikipedia.com
Cerita cinta ini emang inti ceritanya, tapi selain itu banyak banget kenakalan-kenakalan anak yang bikin kita syok karena hal-hal kaya gitu enggak pantes dilakuin anak SD seperti halnya ngeroko, baca majalah Play Boy, judi pake duit, dll. Hal yang saya dapet dari film ini sebenernya anak bisa kaya gitu karena bonding dan kelekatan yang rapuh antara orangtua dan anak jadi anak nyari perhatian di luar yang mana perhatian itu bisa bikin mereka merasa diterima, dihargai, dan secure. Ini disentil juga disalah satu soundtrack nya.
You, who are on the road must have a code that you can live by.
And so become yourself because the past is just a good bye.
Teach your children well, their father’s hell did slowly go by,
And feed them on your dreams, the one they fix, the one you’ll know by.
Don’t you ever ask them why, if they told you, you would cry,
So just look at them and sigh and know they love you.

And you, of the tender years can’t know the fears that your elders grew by,
And so please help them with your youth, they seek the truth before they can die.
Teach your parents well, their children’s hell will slowly go by,
And feed them on your dreams, the one they fix,the one you’ll know by.
Don’t you ever ask them why, if they told you, you would cry,
So just look at them and sigh and know they love you.
Eniwei…
Secanggih-canggihnya teknologi dan media yang kini bukan lagi jadi konsumsi mahal, sebenernya bukan kendala yang harus ditakuti untuk orangtua kini dan orangtua-orangtua masa depan. Karena bagaimanapun media bukanlah alasan atau alibi yang terus-menerus kita persalahkan karena kebobrokan moral yang terjadi pada bangsa kita ini. Anak-anak kita kalau meminjam istilahnya John Lock bagaikan bejana kosong yang siap diisi oleh apapun, dan pengisi bejana yang utama adalah orangtua, ya..lagi-lagi orangtua lah yang memiliki peran besar terhadap pembentukan karakteristik anak. Karena bagaimanapun rumahlah dan orangtua lah lingkungan pertama dan utama yang dikenal oleh anak sebelum mereka mengenal lingkungan meso dan makronya. Berangkat dari rumahlah semuanya berawal, dan berangkat dari pola asuh orangtualah karakteristik seorang anak yang kelak menjadi karakteristik bangsa akan terbentuk dengan sempurna.

3

Jadi Pengusaha atau Karyawan?

Posted by saniatu.aini10 on 26 November 2012 in Academic, IPB, Mahasiswa |

Read more…

Tags: , , , ,

3

Sedih Lagu Anak Sekarang yang Ciyus..Miapa?????

Posted by saniatu.aini10 on 16 November 2012 in anak, Hidup, keluarga |

Awalnya denger lagu ini pas lagi dengerin breakfast club di Cosmopolitan fm. Nah, Novita Angie sebagai penyiar nyentil-nyentil lagu ini, yang pas di dengerin ih ampun deh ini kok ya anak sekarang kok udah makin aneh-aneh aja, enggak ngerti deh gimana sepuluh tahun ke depan yang misalnya entar aku punya anak di masa itu, masa yang bener-bener secara pergaulan bikin bulu kuduk merinding layaknya bulu-bulu landak (hadeuh), padahal kan itu tuh ya.., ya masa-masa puber..tapi kan ampun, enggak musti segitunya juga. So…daripada penasaran, monggo di cek lagunya kayak apa.

koskosanku.com

Wow gitu
Hei gak ada bbm, gak ada sms
Ditanya jawabnya gak punya pulsa
Aku juga kepo, cek twitter dan fb
Astaga ternyata lagi dideketin sama cowok lain
Oh my God, jadi gue harus bilang wow gitu
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Walau kamu telah menipu
Jadi gue harus bilang wow gitu
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Biarkanlah kau bahagia, wow gitu
Hei mungkin salah aku yang pertama dulu
Kenalan di tempat yang gaul itu
Nanti lain kali harus hati-hati
Dengan laki-laki yang setiap menit foto profile ganti
Oh my God, jadi gue harus bilang wow gitu
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Walau kamu telah menipu
Jadi gue harus bilang wow gitu
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Biarkanlah kau bahagia, wow gitu
Nah lo nah lo emang enak ketahuan
Nah lo nah lo kamu jadi kebingungan
Nah lo nah lo emang enak ketahuan
Goodbye goodbye
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Biarkanlah, wow gitu
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin (jangan sedih)
Walau kamu telah menipu
Jadi gue harus bilang wow gitu (wow gitu)
Kalau emang ku di php-in
Jangan sedih, ku sudah ikhlasin
Biarkanlah kau bahagia, wow gitu

lirik di ambil di sini

1

Daya Tarikku Daya Tarikmu

Posted by saniatu.aini10 on 9 November 2012 in komunikasi |
Pernah enggak ngeliat pasangan yang secara kasat mata kok enggak match banget ya, masa cowoknya gwuanteng banget sementara ceweknya standar banget, atau sebaliknya, dan kita yang posisinya bukan ‘mereka’ punya pikiran idih kok bisa banget ya, padahal misalnya kita ngerasa diri kita lebih kece dibandingin cewe yang dipilih cowo gwuanteng itu.
Atau…
Kita misalnya punya temen cowo yang ganteng banget, sampe-sampe tiap kali kita jalan bareng sama dia temen cewe yang lainnya suka jadi heboh sendiri, karena jarang-jarang cewe muka standar bisa jalan bareng cowo ganteng, tapi permasalahannya kita sendiri enggak nganggep temen kita itu ganteng alias biasa banget malahan, padahal nyata-nyatanya dia itu ya kita tahu lah dia itu model dan pinter pula, tapi kok ya kita yang deket malahan ngeliatnya biasa aja, banget malahan, hingga kita punya pandangan kalau temen kita itu ya ganteng menurut orang tapi enggak menurut kita.
Nah, pertanyaan-pertanyaan itu seringkali muncul secara spontan dalam pikiran kita baik disadari ataupun enggak, dimana teorinya sih kalau yang punya fisik lebih kece ya berarti itu lah yang lebih menarik, tapi kan kenyataannya enggak selamanya kayak gitu kan, nah biar enggak bingung yu kita cari tahu lebih lanjut kira-kira hal-hal apa saja sih yang daya tarik itu muncul.
Menurut Hadiyanto terdapat empat faktor yang mempengaruhi daya tarik pribadi yaitu daya tarik fisik, kedekatan, kemampuan, dan kemiripan.
1. Fisik
Daya tarik fisik emang faktor utama banget dalam tahap awal membina hubungan dengan orang lain, dimana kita tahu kalau cowo itu lebih tertarik sama cewe yang cantik, begitupun cewe yang lebih tertarik sama cowo yang ganteng, meski kebanyakan wanita lebih tertarik sama kepribadian pria, makanya karena kebanyakan cewe itu lebih memprioritaskan kepribadian dibandingkan dengan tampilan fisik, kebanyakan cowo seringkali terlihat cuek banget sama tampilannya. Tapi hal ini sebaliknya buat cowo, kebanyakan cowo itu lebih mentingin atau demennya sama cewe cantik, makanya enggak heran dong banyak banget cewe yang berusaha dandan sehebring mungkin buat ‘narik’ perhatian lawan jenisnya. Tapi yang kudu diinget garansi ketertarikan secara fisik ini waktunya limit banget, bahkan cenderung cepet banget buat hilang, dan malah dengan keseringan ketemu ya liatnya malah biasa aja.
2. Kedekatan
Pertanyaannya saling suka karena sering berdekatan, atau saling berdekatan karena saling suka? Nah keduanya itu jawabannya bener. Faktor kedekatan atau geografis ini merupakan faktor yang enggak kalah penting dibandingkan dengan faktor fisik, kenapa, karena dekatnya jarak yang berakibat pada intensitas pertemuan yang pastinya jadi lebih sering. Pernah denger dong istilah cinlok alias cinta lokasi, nah pemahaman cinlok ini banyak banget benernya karena apa, banyak banget pasangan yang menikah karena kedekatan geografis, baik itu karena pertetanggaan rumah, temen kuliah, dan gak jarang rekan kerja. Jelas lah hal ini sangat wajar terjadi, simplenya orang yang lebih ngertiin kita kan temen kita bukan saudara kita yang nyata-nyatanya tinggal jauh di sana, jadi jangan heran cinta lokasi..cinta lokasi…cinta lokasi bisa saja terjadi (kalau kata Projek Pop). Hal inipun dijelasin juga kan di kimia, dimana semakin panjang rantai dan rantai itu tunggal, maka rantai itu bakalan mudah diputus, lain halnya kalau rantainya pendek apalagi rangkap tiga, wah butuh kerja extra buat mutusinnya. So…yang lagi ber LDR ria, keep istiqomah dan enggak ada cerita ya lirik-lirik orang yang bikin hati ‘kembali’ kebat-kebit.
3. Kemampuan
Faktanya, orang itu lebih menyukai orang yang jauh lebih pinter dari dirinya. Kalau cowo nih, malesin juga kan kalau misalnya tampang udah oke, baik pula, tapi ampun deh kalau diajak ngobrol bawaannya lemooottt enggak ketulungan, bikin ilfeel kan?. Tapi..tapi..orang juga nanggepinnya malesin banget kalau ada orang yang emang dari sononya udah super banget, wow banget lah ya orang juga jadi rada-rada canggung buat ngedeketin, karena orang yang berada di sekitarnya kalau deket-deket dia bawaannya jadi inferior, so…kalau punya kepribadian plus otak yang super, ya pokoknya segala super deh ya, please banget jangan terlalu nonjolin itu, atau bahkan ya di sembunyiin lah alias enggak terlalu dikeluarin kesuperannya itu, kalau enggak entar lama-lama orang ngerasa malesin juga buat ngedeketin.
4. Kemiripan
Sering enggak sih kita ngeliat pasangan terus kita bilang “Ih wajahnya mirip banget, pantesan jodoh” pertanyaannya siapa yang mirip, suaminya yang mirip istrinya atau istrinya justru yang mirip suaminya?. Ya, kemiripan faktor yang bahkan mungkin sering kita temukan pasangan itu jadian karena punya banyak kemiripan, entah itu hobby, pemikiran, latar belakang, dll. Tapi enggak jarang juga pasangan yang jadi justru karena diantara mereka lebih banyak bedanya daripada samanya, coba deh diinget-inget lagi, mungkin tiga poin sebelumnya memang memiliki andil besar dibandingkan dengan poin kemiripan ini.
So..gimana, bisa narik kesimpulan atau malahan bingung dan makin penasaran sama hal-hal yang terkain dengan daya tarik ini? Intinya sih banyak hal lah ya yang bikin orang tertarik antara satu dan yang lainnya, contoh yang sering banget dialamin nih misalnya kita habis ada suatu acara terus kita punya kenalan baru kan, nah diantara sekian banyaknya kenalan baru yang kita dapet kita bakalan tahu siapa-siapa aja sih yang menaruh minat lebih terhadap kita, caranya, misalnya dengan lebih sering di sms atau telphon mungkin, bahkan sering ngajak ketemuan yang sifatnya pribadi. Nah kalau hal-hal itu udah kejadian, maka enggak salah lagi tuh kenalan kita itu menaruh minat lebih terhadap kita.
Dari empat faktor tadi sedikit gambarannya bahwasannya jarak, kemampuan, dan kemiripan punya andil yang juga besar lho. Misalnya karena sering ketemu dikampus dan menaruh minat yang sama atas suatu keilmuwan jadi lebih sering buat sharing, diskusi, apalagi misal salah satu diantaranya kakak tingkat atau dosen pada departemen yang sama. lama-lama karena awalnya punya ketertarikan minat yang sama plus jarak yang juga deket, dan ternyata yang lebih ‘tua’nya itu lebih pinter dan enak banget buat diajak diskusi serius sampai diskusi santai, maka jangan heran justru ketertarikan fisik malah jadi urutan terakhir, dimana misalnya kok setiap ketemu jadi suka ya liat matanya yang bulet banget, terus senyumnya yang manis banget apalagi kalau udah ketawa dan keliatan ada lesung pipinya, karena diantara keduanya ternyata orangnya sama-sama humoris, wah bisa makin lengket aja tuh, dan pastinya enggak heran banget kalau suatu hari nanti pada akhirnya mereka jadi, jadi yang ya..bener-bener resmi, alias menempuh jalan pernikahan.

Tags: , , , , , , ,

5

Daya Itu Membawaku Pada Ilmu Keluarga dan Konsumen

Posted by saniatu.aini10 on 8 November 2012 in Academic, IPB, keluarga, Mahasiswa, siswa, Tuhan |

Jadi ceritanya dari waktu SD itu aku udah demen banget baca-baca masalah anak dan keluarga, utamanya ibu emang langganan majalah Ummi dan ketika kedua bibiku baru namatin kuliahnya mereka bawa banyak banget majalah Ayah Bunda dan Nakita, awalnya sih tertarik sama selipan khusus buat anaknya karena gambarnya lucu-lucu dan cerita-ceritanya seru, tapi kan lembar yang khusus buat anak itu dikit banget, alias kalahlah jumlah lembarnya dibandingin isi majalah yang emang diperuntukkan buat orangtua (namanya juga selipan), jadi ya penasaran aja apa yang dibahas dan ya akhirnya selain baca rubrik khusus anaknya jadi ngerembet deh ke bahasan buat parentingnya dan kok kayaknya nemuin keasyikkan tersendiri, apalagi kalau udah ngebahas tumbuh kembang anak dari tahun ke tahunnya.

Nah, berhubung Ayah Bunda dan Nakita yang dibawa bibi itu edisi lama, jadi aku penasaran juga tuh sama edisi-edisi barunya isinya kayak apa, apalagi materi-materinya pasti lebih update dong. Saking penasaran, dan lokasi sekolah deket banget sama toko-toko buku jadi aku suka sengajain tuh nyisain uang jajan buat beli Nakita, sampai temen-temen itu suka ngetawain aku, katanya aku itu enggak pantes baca-baca  kayak gitu, itu kan buat orangtua, emangnya mau cepet-cepetan jadi ibu apa? Well, tapi aku enggak pikirin tuh omongan temen-temen yang nganggap aku aneh karena suka baca bacaan ‘ibu-ibu’ toh orangtuaku juga enggak pernah complain malahan excited banget kalau aku diskusiin atas apa yang udah aku baca di majalah itu, utamanya aku kan punya adik yang umurnya  terpaut cukup jauh, lima tahun, jadi aku suka beranalisis tuh kira-kira kalau umur anak segitu lagi masa-masa apa ya.

Kebiasaan baca majalah keluarga ini trus berlanjut hingga aku SMA, bahkan aku punya idola tuh, namanya ibu Nina M Armando. Beliau itu merupakan dosen komunikasi UI dan suka ngisi rubrik tentang pengaruh media terhadap tumbuh kembang anak, sampai-sampai aku ngebayangin kalau nanti pas kuliah aku mau ngambil komunikasi aja di UI biar ketemu sama ibu Nina dan ngarep banget belajar banyak dari dia apalagi waktu itu aku sempet kepikiran buat jadi wartawan, berhubung aku suka nulis dan seneng banget sama dunia jurnalistik dan aku pas SMA menjabat sebagai ketua Jurnalistik lho di sekolah (hehhhe).

Tapi….,kata ibu wanita itu enggak pantes kalau jadi wartawan. Ya, gugur sudah impianku buat jadi wartawan, terus aku mikir kira-kira entar aku kuliah mau ngambil apa ya. Dan ya, aku inget tuh, aku itu seneng banget sama dunia ekonomi utamanya perusahaan-perusahaan gitu hingga aku kepikiran tuh buat ngambil ekonomi atau management dan ngebayangin bakalan kerja di bank atau perusahaan-perusahaan gede kaya Unilever (whoa..keren kan), apalagi nilai ekonomi dan akuntansiku selalu tertinggi di kelas,tapi…(lagi-lagi tapi) kata ibu wanita itu enggak cocok buat kerja kantoran atau bank, wanita itu punya tanggung jawab yang UTAMA yaitu ngurus anak, jadi kerja itu harus, tapi mbok ya, yang masih ada waktu lah buat anak. Karena alasan ini, lagi-lagi aku bingung, alasan semua cita-cita ditolak masa karena faktor biologis aku sebagai seorang PEREMPUAN, dan aku sempet punya pikiran, coba aku laki-laki, pasti deh dari dulu-dulu ibu ngijinin aku buat punya cita-cita apapun itu, terus kalau emangnya gara-gara anak, ya udah sih simple, gak usah nikah aja bisa kan? Hidup ya cari kerjaan terus uangnya buat hidup sendiri aja trus sisanya dipake buat sedekah sama kegiatan-kegiatan sosial. Gara-gara aku menyadari aku enggak sebebas cowo, makanya aku suka sensitif banget kalau ngednger istilah kesetaraan yang ujung-ujungnya terkait erat sama gender, dan ya minat ku nambah satu, gender.

Hingga SMA kelas tiga aku bingung mau kuliah apa, apalagi aku bisa dikatakan ‘nyasar’ di kelas IPA (meski nilai IPA ku enggak ancur-ancur amat, ya masih suka masuk sepuluh besar lah, meski terus-terusan nempatin posisi ke sepuluh -,-“), dan AHA…aku keingetan tuh, kalau selama ini aku demen banget ngoleksi buku-buku psikologi, ya aku suka aja baca-baca buku psikologi itu karena aku suka ngamatin tingkah-laku orang-orang di sekitar, utamanya baca buku psikologi remaja, dimana disana aku bisa cari tahu masalah-masalah apa yang lagi dihadapi plus solusinya dari sang ahli (berhubung aku enggak terlalu suka curhat keorang, karena kapok curhatnya pernah dibocorin, dan jadi malah bikin masalah baru), makanya, kalau nyari solusi, biasanya aku larinya ke buku, ya lagi-lagi yang ngebahas kayak gitu kan buku psikologi, so…aku kepengen masuk jurusan psikologi, lagi pula kan jadi sikolog juga pekerjaan yang lebih keseringan dilakonin sama ‘perempuan’.

Ya..,aku ngareeeeeeep banget buat kuliah psikologi TAPI lagi-lagi katanya sikologi itu suka bikin bingung orang yang melajarinnya, dimana apa-apa dari orang itu dibaca, hingga kalau dia mau milih pasangan hidup suka banyak pertimbangan yang ujung-ujungnya enggak nikah-nikah (kayaknya alasan terakhir ini yang bikin dilarang banget). Bingung..ya..bingung, terus mau kuliah apa dong? Dan karena kebingungan-kebingungan ini aku berusaha narik kesimpulan kalau semua jurusan yang aku ajuin kan backroundnya IPS semua tuh, gimana kalau aku iseng ngajuin jurusan IPA, dan ya ayahku ngarep banget ada anaknya yang nantinya bakalan jadi dokter, dan harapan itu dicobakan padaku berhubung aku anak pertama, tapi boro-boro mau jadi dokter, pelajaran Biologi itu pelajaran yang menurutku ngebosenin banget apalagi kalau udah praktikum di lab, beuh rasanya itu BT banget pokoknya.

Kelas tiga, kan kita udah mulai sering tuh konsultasi akademik sama guru BK, utamanya konsultasi ini dimaksudkan buat ngarahin kita buat ambil jurusan apa pas kuliah, dan berhubung nilai-nilai kimia ku suka termasuk ke dua tertinggi (hehhe) jadi aku pikir aduh..kayaknya enggak ada pilihan lain nih kecuali kimia,tapi aku mikir ulang, bukannya setiap kali praktikum aku itu suka jadi bingung sendiri yang ujung-ujungnya daripada bingung aku suka ngambil bagian tugas nyuci-nyuci alat, kan kalau kuliah enggak bisa gitu. Aku harus rela dong ngabisin waktu berjam-jam di lab, tapi ya udah sih daripada aku enggak kuliah. Akhirnya aku mengajukan diri buat ambil kimia, dan entah dengan alasan apa permintaan itu DIRESTUI.

WHAT…KIMIA…,itu tuh berasa aduh..entah deh,aku udah bayangin entar aku harus rela ngabisin sisa umur di lab dengan serangkaian percobaan-percobaan ini-itu,tapi ya..daripada enggak kuliah dan enggak direstui ibu akhirnya aku daftar ke dua PTN dengan pilihan pertama KIMIA.

Singkat cerita, gara-gara USMI IPB dateng duluan jadi aku tergoda buat coba-coba daftar, apalagi di IPB ada jurusan kimia. Padahal dari SMP aku sempet bikin cita-cita bareng sama temen-temen kalau entar kita kuliah bareng di UGM, tapi seleksi UGM itu belakangan apa lagi grade UGM tinggi banget, jadi aku rada-rada ga PD gitu, tapi apapun aku HARUS nyoba daftar di UGM, dan IPB ya udah sih enggak ada salahnya buat dicoba (meski dalem hati aku enggak ngarep banget di terima).

Sebulan..dua..bulan pengumuman USMI enggak keluar-keluar,dan aku mikir palingan juga enggak lolos, dan aku jadi beneran mantepin diri buat persiapan belajar ketat biar keterima di UGM. Bulan Februari 2010 di minggu pertama aku tiba-tiba dipanggil ke ruang BP, dan ternyata di sana ada temen-temn yang lainnya juga, terus ibunya ngumumin kalau kita dikumpulin di situ karena kita keterima di IPB, dan ajaibnya aku keterima di kimia, oalah temen-temen yang lain pada senyum-senyum seneng, sementara aku cuman senyu-senyum asem. Apa iya aku harus ngambil IPB dan kuliah di kimia?.

Seminggu setelah pengumuman USMI aku berangkat ke Yogya buat tes UGM, tapi sesampainya di Yogya aku berasa ilfeel gitu sama pergaulan mahasiswanya, apa ya kok di mataku seakan-akan bebas, dan entah kenapa sepulang dari Yogya aku bikin keputusan buat ngambil IPB aja. Seminggu kemudian seleksi UGM di buka secara online, aku yang nunggu-nunggu hasil tesnya malah ketiduran, dan pas shubuh temenku sms kalau aku LOLOS ke UGM, what???? Aku..lolos UGM, enggak percaya aku langsung buka situsnya, dan ternyata bener aku lolos dan disurung datang minggu depan buat ngurusin registrasi dan semacamnya.

Gak..percaya..ya emang rasanya itu enggak percaya banget bisa keterima dikampus yang udah aku idam-idamkan dari pas jamannya SMP, tapi tunggu, aku kan udah bilang ke ibu buat ambil IPB dan lunasin sebagian biayanya, masa iya sekarang aku tiba-tiba bilang enggak usah diambil IPBnya dan ambil UGM aja, dan komen ibuku ini “Emang kamu rela ngebuang uang segitu banyak, uang segitu itu enggak sedikit” dan ya..,masa aku plinplan gitu sih, ya udah lah IPB aja (dengan berat hati dan sangat terpaksa).

Pas ayah ke Bogor buat ngurusin pembayaran, ayah bawa buku yang ngejelasin jurusan-jurusan yang ada di IPB, beserta penjelasan-penjelasannya secara singkat, dan pas mau kehalaman terakhir aku baca ada jurusan ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN, wah aku baru tahu tuh ada jurusan itu, dan ketika ngeliat halaman IKK ada satu getaran yang waktu itu aku enggak nyadar tapi getaran itu kerasanya kuat banget, getaran yang entah gimana mengisyaratkan secara halus agar pada akhirnya aku HARUS berada di IKK.

AKU DAN IKK PADA AKHIRNYA

Ya..,getaran itu seakan-akan nariknya kuat banget dan kok aku ngerasanya itu penasaran banget sama departemen ini. Seperti biasa, untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang aku hadapi aku larinya ke buku, dan karena aku penasaran aku cari tahu semua tentang IKK di buku panduan sarjana.

Setelah dibaca rasanya aku jadi inget jaman-jamannya aku waktu lagi ngebet banget sama dunia anak, bagaimana tumbuh kembangnya,juga tentang keluarga dan gender. Aku kok…ya..pokoknya kenapa tiba-tiba jadi excited sama jurusan ini. Ga cukup informasi dari buku panduan sarjana, aku cari tahu mengenai IKK ke kakak-kakak tingkat, dan ya…aku benar-benar jatuh cinta. Dan kekuatan untuk benar-benar berganti status menjadi mahasiswa IKK semakin kuat, dan entah kenapa aku yakin banget bakalan jadi bagian dari IKK.

Secepatnya aku kasih tahu ibu, kalau aku pengen pindah jurusan ke IKK. Awalnya ibu kaget,kok bisa? Aku jelasin secara perlahan apa yang sebenernya aku mau, dan aku mau jadi bagian dari IKK, utamanya ibu pernah mengutarakan keinginannya kalau ibu pengen ngelihat aku berkecimpung di dunia akademik dengan cara aku menjadi dosen, dan aku membujuk ibu bahwasannya aku bakalan berusaha buat wujudin cita-cita ibu buat jadi dosen, tapi jadi dosen kan enggak harus jurusan kimia kan, IKK juga bisa. Ditambah lagi aku memang punya minat yang besar terhadap dunia anak, keluarga, dan gender jadi kalaupun ibu ingin ngeliat aku jadi dosen, aku akan berusaha buat jadi dosen IKK. Hingga akhirnya ibu ngerestuin aku buat pindah jurusan, meski keputusan ini tentunya bukan suatu keputusan yang mudah.

Awal semester dua aku langsung konsultasi sama konselor terkait dengan perubahan minat studi, dan saran konselorku waktu itu agar aku secepatnya menghubungi IKK terkait dengan perpindahan departemen, utamanya hal-hal apa yang harus aku persiapkan untuk pindah jurusan. Dan sesuai dengan petunjuk konselor aku di sarankan untuk menghadap langsung sekertaris departemen IKK yang ternyata memang kenalannya konselor, banyak hal yang aku konsultasikan utamanya alasan-alasan apa yang melatarbelakangi aku buat pindah jurusan.

Ibunya bener-bener bijak banget nasihatin aku ini-itu, yang mana intinya mungkin keinginan ku buat cepet-cepet ganti jurusan itu ya, hanya sebatas emosi, karena kekecewaan aku yang lama ketumpuk dan akhirnya meledak jadi suatu keinginan yang seakan-akan tiba-tiba dan bener-bener mengejutkan dan kalau dipikir-pikir iya juga sih, toh aku kan belum nyoba juga di departemen entar kayak apa, siapa tahu lambat laun aku bakalan kerasan di kimia dan ngelupain IKK, dan ya mungkin ini udah jalan Tuhan, dimana Tuhan milih aku buat istiqomah di kimia.

Awal masuk departemen pas ketemu dosen PA pertama kali aku langsung curhat, bahwasannya aku itu enggak sepenuhnya milih kimia, dan alhamdulillah nya aku dapet dosen PA yang luar biasa baiiiiiiiikkkkk banget, namanya ibu Eti Rohaeti campuran Ciamis dan Bandung, dan berhubung aku dari Tasik, jadi kita berasa lebih nyambung aja kalau pas sesi konsultasi, jadi bukan hanya akunya aja yang curhat, tapi ibunya juga, utamanya kalau aku udah mulai down, ibu Eti ini suka support aku dan ngasih cerita yang bener-bener bikin aku kuat lagi buat bangkit.

Pas belajar di departemen aku ketemu sama kimfis alias kimia fisika, pas belajar kimfis ini aku berasa terhibur dan ya..lumayan buat nguatin aku lah diantara mata kuliah-mata kuliah kimia yang bikin aku horor, dan aku berdoa sama Tuhan, jika emang kimia udah jodohku aku mohon kasih aku kesempatan buat jadi seorang ahli kimia fisika, dimana keinginanku buat jadi dosenpun terwujud juga. Tapi entah kenapa semakin aku memohon kayaknya bayang-bayang buat pindah ke IKK itu makin kuat aja,dan aku kok jadi bingung, sebenernya aku harus gimana dan aku ngerasa ada suatu daya yang kok kuat banget buat narik aku dari kimia dan segera beralih menjadi IKK, ya..daya itu semakin kuat, hingga aku berdoa lagi sama Tuhan, ya Tuhan jika memang IKK itu yang terbaik tolong bukakan jalannya Tuhan supaya aku beneran bisa jadi mahasiswa IKK, tapi kalau enggak dan emang harus kimia, tolong aku Tuhan, buat aku kuat buat ngehadepin semuanya yang mana aku enggak mau ngecewain ibu atas masa-masa kuliahku,dan Tuhan aku pengen banget ngewujudin cita-cita ibu buat ngeliat aku sukses berkecimpung di dunia akademik dengan cara menjadi dosen.

Melewati semester tiga aku bener-benet ngerasa galau banget sama status aku, disatu sisi aku suka banget sama kimia fisika, tetapi disisilain getaran kuat yang seakan-akan narik aku buat pindah ke IKK makin kuat aja. Hingga semester empat datang, dan PA ku menyarankan jika aku benar-benar serius di IKK, maka semester ini aku banyakin ngambil mata kuliah IKK, nanti kita lihat, apa emang aku lebih bagus atau justru malah lebih buruk, dan ya, masa ‘percobaan’ itupun dimulai.

GENDER DAN PENDIDIKAN HOLISTIK

Aku inget banget, itu hari Senin dan jadual kuliah menunjukan kalau tepat jam satu siang aku ada kuliah pendidikan holistik,  wah apa itu pendidikan holistik, tapi menurut buku panduan sarjana pendidikan holistik itu ya terkait dengan teoritis-teoritis terus ada kalimat motivasi belajar siswa, wah aku makin bingung ini kira-kira belajar apaan ya, apalagi setelah aku ngobrol-ngobrol sama angkatan 46, mereka langsung kompakkan bilang kalau aku itu NEKAD banget ngambil penhol, dimana aku sendiri bener-bener minus sama ilmu dasar-dasarnya,tapi aku punya keyakinan kuat bahwasannya aku PASTI BISA melahap penhol dengan sempurna.

Nah sebelum semester empat (semester tiga) aku suka banget dengerin acaranya Ayah Edy di Smart fm, nama acaranya itu Indonesia Strong From Home, dan pas pertama kali aku denger itu aku denger yang temanya ‘Jangan Megajari Anak Anda Untuk Mencari Uang Tapi Ajari Agar Uang Mengejar Anak Anda (tuh kan temanya keren banget), ya, intinya tema itu ngajarin bahwa yang paling itu adalah passion, kalau kita ngerjain sesuatu karena passion, maka kita bakalan totalitas ngerjain kerjaan kita, begitupun sebaliknya, kalau orientasi kita materi kita bakalan diperbudak materi untuk terus-terus nambah tapi kita enggak dapet feel bahagianya, sementara intinya kita kan nyari kebahagiaan, percuma aja materi banyak,tapi…., kita enggak pernah ngerasa bahagia.

Habis ngedengerin itu aku jadi mikir, emang kimia itu masa depannya ngejanjiin banget, tapi kalau ngejanjiin dan kita enggak nyaman ya buat apa, buat apa materi banyak tapi kita enggak bahagia. Kita nolak apa yang menjadi passion kita, bohongin diri terus-terusan dan ngerasa ‘nyaman’ kan umur kita yang di kasih Tuhan itu limit, emangnya rela apa terus-terusan ngabisin umur buat suatu hal yang kita enggak mau?.

Selain Indonesia Strong From Home, di Smart Fm aku suka banget dengerin acaranya pak Arvan Pradiansyah, Smart Happiness dan waktu itu aku inget banget dipenghujung semester tiga pak Arvan dalem acaranya bilang “Ketika kita mempunyai mimpi, untuk apa berlama-lama hidup dalam mimpi orang lain” ampun, jleb banget enggak sih, dan berulangkali pak Arvan itu ngebahas passion, dimana beliau mengartikan passion itu merupakan calling alias panggilan Tuhan,dan kalau mau bahagia, ya kejarlah apa yang menjadi passion kita, apa yang Tuhan inginkan atas penciptaan diri kita,dan ya…, aku jadi inget tiap kali baca Jurnal Perempuan aku selalu ngerasa miris atas apa yang terjadi terhadap kaum perempuan, seakan-akan kok kesannya perempuan itu dicipta Tuhan menjadi makhluk yang gak berdaya, dan ya…aku kepengen banget mempelajari gender sebagaimana Gadis Artavia (pimpinan redaksi Jurnal Perempuan) memperjuangkan kesetaraan dengan latar belakang ilmunya.

Akhirnya…

Ya.., meski awalnya dibilang nekad untuk mengambil Pendidikan Holistik tapi semakin lama dipelajari aku bener-bener makin mencintai mata kuliah ini, utamanya ketika kuliah ke dua yang ngisi itu ibu Ratna Megawangi yang fokus pada pendidikan karakter,aku bener-bener excited dan permasalahan-permasalahan yang dikaji di pendidikan holistik itu emang mirip banget sama yang di bahas Ayah Edy di Indonesia Strong From Home, bagaimana sistem pendidikan yang awut-awutan, kenapa anak jadi minder bahkan benci sekolah, hingga pembahasan home schooling yang masih bias di masyarakat, di mana Ayah Edy sendiri merupakan pakar Holistical Learning dan Multiple Intelligences dengan tokohnya Howard Gardner yang lagi-lagi hal itu bener-bener dikaji di mata kuliah Pendidikan Holistik.

Lain Pendidikan Holistik, lain juga Gender. Dengan semangat pengen mengkaji Gender utamanya ketika aku mulai getol banget baca Jurnal Perempuan AKHIRNYA aku bener-bener ngedapetin apa yang aku cari di mata kuliah Gender dan Keluarga,dan Ibu Herien itu bagi aku inspiring banget pokoknya, apa ya..kita tahu akar dari gender itu teori Konflik Sosial sementara keluarga sendiri berangkat dari Struktural Fungsional yang selalu menuju kehomeostatisan tapi ibu Herien ini menyandingkan keduanya (tuh kan keren banget), ya Keluarga dan Gender disandingkan di mana sebenernya perspektif gender itu kan awalnya dibangun dari keluarga, dan spirit inilah yang enggak aku temukan ketika aku berusaha mengkaji gender dalam Jurnal Perempuan, dimana feminis seringkali luput atas solusi yang lebih ‘ramah’ untuk mengatasi kesetaraan.

Selain Gender dan Pendidikan Holistik, ada juga lho mata kuliah yang bikin kita jadi orang kaya namanya itu Management Keuangan Konsumen (MKK). Aku berpikiran bahwa MKK ini itu penting banget, dimana setelah aku ngambil mata kuliah ini aku jadi makin melek banget sama hal-hal yang berbau  financial, investasi, asuransi, hingga persiapan dana pensiun. Ditambah lagi, aku demen juga tuh dengerin talkshownya Tun Dasem Waringin di Smart Fm, pokoknya Pak Tun itu suka banget ngasih tips-tips gimana agar kita itu bisa berinvestasi secara cerdas dan pak Tun sendiri merupakan penulis buku Financial Revolution. Selain Pak Tun, ada juga bu Lidgwina Hananto dari QM Finance yang suka ngisi bagaimana kita memenej financial pribadi kita, tapi bu Lidgwina ngisinya di Cosmopolitan Fm, ya pokoknya MKK keren banget deh, dan kalau kita tahu diluar sana itu banyak banget orang yang excited untuk mempelajari apa-apa yang dipelajari di MKK ini. Pokoknya hobby ngedengerin acara radio terkait dengan financial ini match banget lah sama mata kuliah MKK.

Pokoknya pas ngambil kuliah di IKK itu rasanya tiap pergi kuliah itu aku rasanya jatuh cinta terus-terusan. Tiap hari itu (apalagi pas pelajarannya bu Melly, Penhol) rasanya kayak seminar tapi temanya itu bener-bener aku suka banget, ya..aku bahagia…pokoknya bahagiiiiiiiiiiaaaaaa banget lah,tapi satu hal, statusku masih tercatat sebagai mahasiswa kimia.

Beneran, pas aku ngambil kuliah IKK aku udah berasa jadi mahasiswa IKK sesungguhnya, hingga yang bikin aku tersipu ada satu dosen yang bilang kalau aku itu mahasiswa IKK, karena paling keliatan bawel juga kali ya pas praktikum, dan dengan BERAT HATI waktu itu aku menepis dugaannya, kalau sebenernya aku anak SC dan bukan IKK, walau dalem hati aku berdoa sama Tuhan kalau segera aku bakalan beneran tercatat secara resmi sebagai mahasiswa IKK.

TIGA KESEMPATAN YANG DITAWARKAN

Status yang enggak jelas, tentunya membawa kegalauan tersendiri. Terakhir kali aku konsultasi sama sekdep IKK ibunya menyarankan agar aku ikut SNMPTN atau UTM, biar prosesnya cepet, karena perpindahan departemen secara langsung karena alasan perubahan minat, IKK belum bisa menerima, dan ya, disela-sela UAS aku ikut tes SNMPTN.

Selesai UAS, aku menempuah alternatif ke dua, yaitu mengajukan surat perpindahan departemen kepada rektor, dan aku mempersiapkan diri untuk mencoba alternatif ke tiga, UTM, karena aku enggak begitu yakin dengan hasil SNMPTN dimana aku fokus belajar bener-bener kepisah antara belajar buat UAS dan belajar buat SNMPTN, dan SNMPTN tidak membawakan hasil seperti yang diharapkan.

Ya aku bener-bener sedih, utamanya ibu yang terus-terusan ngerasa bersalah karena waktu itu enggak ngasih kesempatan atas apa yang aku mau. Ya, gimana ya..,aku enggak mungkin menyalahkan ibu, karena aku tahu ibu juga merupakan korban parenting sebelumnya, ada parenting salah yang diterapkan utamanya dalam pengambilan keputusan besar dikeluarga, dan aku harus memutus rantai itu, aku harus benerin parenting untuk generasi berikutnya, dan aku jadi keinget kuliah gender, kalau sebenernya perempuan itu kaya ujung tombak dari keluarga, dimana disanalah peran ibu memiliki pengaruh besar, dan gender benar-benar menghapus pikiran picikku bahwasannya keluarga itu bukan suatu hal yang penting, dan menikah itu pilihan, dan aku berpikir kalau suatu saat nanti aku harus memutus semuanya dengan cara aku tidak menikah, tapi ternyata, setelah belajar gender aku sadar, pikiranku terlalu picik dalam memandang suatu hal, bukankah aku ingin membantu membenahi sistem pendidikan yang bermasalah, bukankah aku ingin kelak anak-anak Indonesia benar-benar mencintai sekolahnya, dan bukankah Thomas Lickona mengatakan “Meski anak-anak hanya berkisar 25% dari jumlah penduduk, tetapi jika kita fokus untuk membenahinya maka 100% masa depan akan terjamin” dan Ayah Edy, Pendidikan Holistik, serta Gender dan Keluarga sepakat, bahwa semuanya itu berawal dari rumah, jika aku menginginkan cita-cita itu untuk anak-anak Indonesia apakah aku tidak tergugah untuk menerapkan ilmu yang aku dapat kepada anakku sendiri, dan hal itu hanya dapat dicapai jika aku membentuk sebuah keluarga inti, dimana cara yang harus aku tempuh adalah dengan cara menikah.

Aku ingat nasihat ibu, ketika aku enggak lolos SNMPTN “Nak, Tuhan tau mana yang terbaik untuk umatNya. Jika Tuhan menghendaki kamu untuk IKK, maka Tuhan akan membukakan jalanNya, tapi jika Tuhan memang tidak juga membukakan jalanNya, maka kimia itu jalan kamu. Kamu harus menjalaninya dengan ikhlas, hilangkan semua emosi negatifmu, karena Tuhan tau, mungkin keinginan kamu hanya nafsu kamu, serahkan semuanya kepada Tuhan nak…”. Ya, ibu benar, mungkin keinginan aku buat jadi bagian IKK cuman nafsu aku, dan aku berdoa sama Tuhan, aku ikhlas nerima semua ketentuannya, jika Tuhan benar-benar menghendaki ku untuk melanjutkan kuliah di kimia.

Menjelang UTM, aku disibukan dengan dua kegiatan yang benar-benar berbeda. Satu sisi aku ikut program IPB mengajar, dimana liburanku benar-benar terpakai untuk persiapan turun lapang selama dua minggu. Mulai dari bikin RPP, SKM, SKH dan mengcreate bagaimana agar pengajaran yang disampaikan benar-benar fun learning, untungnya aku udah ngambil Pendidikan Holistik, jadi aku enggak begitu kesulitan untuk membuat semuanya, dan tentunya aku enggak boleh ngelupain projek terbesarku, dengan mempelajari kembali pelajaran-pelajaran SMA dengan lebih ketat dan keras, guna menempuh jalur UTM, agar aku benar-benar resmi diterima sebagai mahasiswa IKK.

UTM berlangsung tepat satu hari sebelum turun lapang, dimana pengumumannya sendiri diumumkan seminggu berikutnya, itu berarti aku sedang turun lapang, dan berhubung pengumumannya dibuka secara online, aku menghubungi adikku untuk melihat hasilnya, karena koneksi internet di tempatku turun lapang bener-bener bikin dahi kelipet-lipet hingga nampak kerutan-kerutan,dan ya..,aku bener-bener serahin semuanya ke Tuhan, apapun itu jawabannya, aku yakin itulah yang terbaik, dan Tuhan menginginkan itu jadi aku harus jalanin. Aku yakin..Tuhan ngasih cobaan pasti barengan sama solusinya, ya aku harus kuat dan aku ikhlas.

Minggu pertama pas turun lapang, rasanya itu deg-degan gak karuan. Deg-degan sama status yang belum jelas. Bawaannya kalau diajak ngobrol jadi seringkali enggak nyambung, tidurpun yang biasanya pules banget jadi keseringan kebangun tengah malem terus susah tidur. Paginya pas ketemu anak-anak yang biasanya kalau ngajar itu bikin aku bisa lupain masalah-masalah, ini malah sama aja, ngeliat anak-anak ketawa-tawa karena penyampaian materi yang aku bawakan penuh dengan ekspresi bagi aku justru enggak ngefek apa-apa, seakan perjuangan buat lolos IPB mengajar selama sebulan ini kaya kerasa flat aja, padahal hobby aku kan ngajar, tapi kok…,ah..pokoknya perasaannya itu bener-bener gundah gulana layaknya bunglon yang suka berganti-ganti warna.

Hingga malem itu malem Sabtu, dan UTM diumumin hari Sabtu. Ampun..itu tuh ya, rasanya deg-degan banget, gak bosen-bosennya aku sms ade ku buat buka pengumumannya, dan lagi-lagi malemnya ini beneran lebih SUSAH tidur lagi.

Sabtu yang ditunggupun datang. Aku udah mulai panik, takut-takutnya UTM pun gagal layaknya SNMPTN. Sabtu itu kebetulan sekolah lagi libur, dan berhubung dalam waktu dekat SD binaan kami akan bertarung dengan SD sebelah dalam lomba menyambut bulan Ramadhan dimana SD yang menjadi lawan kami merupakan SD binaan anak-anak UIN yang lagi KKN, jadi ini kayak pertarungan prestise antar universitas secara gak langsung. Tugasku waktu itu jadi penanggung jawab buat lomba mewarnai, jadi buat preparenya itu aku bareng partnerku sering bolak-balik warnet buat ngeprint gambar buat latihan mewarnai dan itu tuh udah jam sembilan, dan pas aku buka situsnya pake hp kok belum diumumin, dan aku sms temenku yang emang jalur masuknya UTM, aku nanya biasanya dibuka jam berapa, terus dia jawab kalau jam sembilan udah di buka sampai seringnya aku nanya-nanya dia jadi aneh juga, dan nanya “Emangnya siapa yang UTM” dan aku cuman jawab “Ini, anak omda”, lha aku enggak bohong-bohong juga kan, orang aku juga anak omda hehehe.

Jarum jam tepat menunjukkan waktu pukul sembilan tiga puluh, tapi pengumuman belum juga dibuka, dan kepanikkan ini kebaca juga sama partner ngajarku, terus dia nanya “Kok kayak panik banget, kenapa?” aku cuman jawab nyengir aja, dan berusaha nutupin perasaan “Enggak ko, enggak ada apa-apa” beuh, padahal ampun jantung udah kebat-kebit enggak beraturan, hingga dengan surprisenya situsnya bisa dibuka juga lewat hp, dan berhubung udah deg-degan gak karuan, sampai-sampai aku salah masukkin nomor peserta, dan beberapakali situsnya nolak, terus aku coba inget-inget lagi, dan bismillah kayaknya ini deh nomer pesertanya dan ya perlahan situsnya mulai ngerespon lho..lho..tapi kok itu kok panjang banget ya kebukanya (kan di hp harus pake di zoom,baru keliatan jelas) dan pas di zoom nafasku seakan terhenti (yah mati dong) pas scroll digeser kebawah ada tulisan SELAMAT ANDA DI TERIMA DI DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN, silakan melakukan registrasi….., ya kurang lebih isinya seperti itu. Ampun itu tuh, berasa enggak percaya, akhirnya perjuangan buat ngedapetin IKK selama 1,5 tahun terjawab sudah, dan inilah jawaban Tuhan pada akhirnya.

Ampun…,pokoknya itu waaaahhhh seneng banget lah ya pokoknya. Lega..plong..apa ya, ya bisa bayangin dong satu setengah tahun ngegalau status dan ya akhirnya lega banget kan,enggak sia-sia gitu, dan pastinya semua ini enggak bakalan kejadian tanpa campur tangan Tuhan. Give ini tuh sebenernya ujian juga, dimana Tuhan dengan jalanNya pengen nguji keseriusan aku dan nantiin hal-hal apa yang bakalan aku perbuat,utamanya tantangan-tangan yang meliputi dunia anak dan keluarga, karena sebenernya Tuhan itu tahu, tapi Tuhan itu menunggu.

MINGGU PERTAMA JADI ANAK BARU

Hari Senin, dan jadual yang aku dapet adalah Pengantar Management dan Psikologi Anak, yang konon katanya Psikologi Anak ini merupakan akar dari Pendidikan Holistik (whua..buahnya aja udah enak banget apalagi akarnya), statement hari pertama kuliah sebagai anak IKK itu beneran AMAZING banget pokoknya, lha gimana enggak apalagi pas Psikologi anak ngejelasin sejarah-sejarah dan teori-teori yang melandasi psikologi anak, dimana ketika bu Melly ngejelasin sejarahnya aku kayak remind bukan hanya Pendidikan Holistik yang pernah aku ambil, tapi juga ngingetin aku sama novel filsafatnya Jostein Gaarder, Dunia Sophie, sedikit banyak sejarahnya itu bener-bener mirip sama yang diceritain dinovel dimulai dari zamannya Yunani kuno sampai zamannya filsuf Descartes yang kita kenal dengan Cartesian Dualism, dimana fikiran dan tubuh itu benar-benar terpisah, pun dengan tokoh-tokoh lainnya yang juga nongol di Dunia Sophie seperti John Locke, Freud, Hegel, hingga Darwin. Ternyata ya, psikologi anak ini memiliki hubungan yang erat juga ya dengan filsafat, dimana kalau kita remind kalau ngomongin filsafat maka kita ngomongin asal-usul suatu ilmu dan berujung sama zamannya Socrates yang melahirkan orang-orang mengagumkan seperti Plato dan Aristoteles.

Okey…,selain Psikologi Anak yang bener-bener bikin aku semanget lagi buat terus-terusan menggali lebih dalem lagi tantang dunia anak, aku ngerasa di IKK ini aku belajar banyak hal yang dulu aku sempet punya pikiran mau ngambil jurusan ini-itu. Di IKK aku dapet mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi (inget dong dulu aku sempet ngebet banget kuliah komunikasi UI), Pengantar Management (yang ngupas abis seluk beluk perusahaan itu kayak gimana, pun dengan leadershipnya), Management Keuangan Konsumen (ilmu yang ngajarin kita biar jadi orang kaya, dan melek financial), Pengantar Ekologi Keluarga (jadi inget bukunya Rhonda Byrne The Power The Secret, yang ngejelasin kekuatan hukum tarik menarik dan kekuatan maha dashyat dari daya pun daya dan hukum tarik menarik ini milik alam yang dikuasai Tuhan), Gender dan Keluarga (mata kuliah yang WAJIB bin KUDU banget diambil sama wanita-wanita Indonesia), Pengantar Ilmu Keluarga (yang banyak ngajarin arti penting dari sebuah keluarga), Pendidikan Holistik (gila..ini tuh mata kuliah yang dewa banget deh, yang nimbulin spirit kita buat ngebenahin sistem pendidikan yang enggak ramah otak dan ramah anak), Perilaku Konsumen (yang banyak ngajarin agar kita jadi konsumen yang cerdas), Pemasaran Sosial (Bersiap turun lapang,disini ilmunya), dan ya aku baru ngambil segitu sih, pokoknya haduuuh masih banyak banget lah mata kuliah-mata kuliah yang PASTINYA dari namanya aja tuh udah keren banget pokoknya, seperti salah duanya itu Parenting dan Pendidikan Karakter yang sekarang-sekarang ini lagi getol banget dicari orang buat dipelajari.

Huft…sedikit menghela nafas, jadi ini yang Tuhan inginkan. Dari sekian banyak jurusan yang aku inginkan dulu, ternyata semuanya terjawab sudah di IKK dimulai dari aku pengen kuliah komunikasi, eh dapet juga daskom, ekonomi atau management di IKK kan ada ilmu-ilmu konsumen yang PASTI banget bersinggungan sama ekonomi dan management, belum lagi waktu aku juga ngebet pengen masuk psikologi eh aku dapet juga psikologi yang di match sama dunia anak, dan ketertarikan ku sama dunia anak, keluarga, gender, dan pendidikan di mana di IKK ada Ilmu yang ngupas tuntas tentang semuanya,ya semuanya…, bukan hanya sekedar keinginan aku yang sempet tersembunyi dan eggak terkabulkan buat ngambil ini itu, tapi inilah jawaban Tuhan, jawaban Tuhan yang menurutku indah dan paling indah. IKK mengemas semua yang aku suka, yang aku minati, menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Ya..aku percaya Tuhan itu tahu, tapi Tuhan itu menunggu. Menunggu kita untuk gigih memperjuangkan apa yang kita mau. Menciptakan liku bukan untuk membuat terpuruk,tapi karena Tuhan tahu bahwa kita mampu. Mampu sebagai insan pilihan Tuhan untuk melalui jalan dengan rute berliku, karena bukankah diujung sana Tuhan telah menyediakan kita sesuatu indah yang sama sekali tidak kita tahu.

Daya dan hukum tarik menarik yang telah Tuhan ciptakan. Passion yang berarti panggilan Tuhan pun penantian Tuhan dan jawaban atas rahasia di balik penciptaan kita, semuanya itu terangkai dengan begitu cantik walau tidak selalu terasa manis. Inilah jawaban atas semua penantian. Inilah liku yang diciptakan untuk menjemput impian. Dan inilah kesempatan yang benar-benar besar yang telah Tuhan berikan.

Ya..damai dan bahagia yang aku rasa sejak aku benar-benar telah dinyatakan resmi sebagai mahasiswa di IKK ini. Semakin aku belajar banyak hal dari departemen ini semakin aku yakin akan suatu perubahan besar yang akan segera terjadi.

Anak-anak Indonesia menanti

Keluarga-keluarga Indonesia menanti

Wanita-wanita Indonesia yang merindukan datangnya kesetaraan dan keadilan pun menanti kami…

Bersama IKK perubahan besar itu akan segera terjadi dan PASTI

Terima Kasih Tuhan atas kasih dan jalan yang telah Engkau beri

 

 

“Lets make Indonesia strong from home”

-Ayah Edy-

 

 

Nb: teruntuk ibu ku, wanita luar biasa yang menginspirasi aku yang benar-benar mensupport aku atas pilihanku pada akhirnya, aku berjanji bu, aku enggak bakalan ngecewain ibu dengan pilihanku, maafkan aku ya bu, maaf kalau ibu syok dan kecewa karena keinginanku yang seakan-akan meledak dan tiba-tiba. Terima kasih bu, terima kasih buat kesempatan yang telah diberikan, semoga jalan ini adalah jalan yang benar-benar telah Tuhan kehendaki dan Tuhan berkati yang telah Tuhan simpan dan Tuhan berikan diwaktu yang tepat. Terima kasih..bu…terima kasih untuk kesempatan dan support yang telah ibu berikan, terima kasih untuk kesempatan aku meraih dan memilih jalan hidup yang aku kehendaki. Terima kasih ibu…., I love you.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: , , , , , , ,

9

Tahun ke Tiga Idul Adha Tanpa Keluarga

Posted by saniatu.aini10 on 24 October 2012 in keluarga, Mahasiswa |
Sebelum-sebelumnya emang enggak pernah ngebayangin sedikitpun kalau nanti bakalan ngelewatin Idul Adha tanpa keluarga, karena dulu itu mikirnya meski entar kuliah di luar kota kalau Idul Adha PASTI bakalan nyempetin buat pulang ke rumah, tapi kenyataannya enggak.
Idul Adha itu salah satu moment yang selalu bikin aku terkesan setiap tahunnya, utamanya Idul Adha itu moment dimana keluarga kumpul dan dua atau tiga hari berturut-turut kerjaannya masaaaaaakkkkk terus, dimulai pas sore sebelum hari H (Persiapan buat masak orang-orang di masjid) sampai hari H, di mana dapur berubah jadi lautan daging, dan mendadak ibu berprofesi sebagai pembuat kere alias dengdeng, karena menurut ibu kalau daging dimasak sekaligus itu sayang, jadi biar dagingnya awet dan tetep enak buat dimakan ya caranya dibuat dengdeng. Dan ya, cara ini emang turun-temurun dikeluarga, dan yang aku tahu ibu bisa bikin kere dan punya persepsi itu juga karena pengaruh nenek yang melakukan hal seperti itu.
Entah kenapa aku itu paling seneng ngeliat orang masak, utamanya kalau nenek udah masak makanan yang enaaaakkkkk tiada duanya, hingga karena masakannya yang enak ini bikin aku tergugah buat bisa masak. Kalau orang lain mungkin yang paling sering dikangenin ya masakan ibunya, tapi berhubung ibu enggak terlalu suka masak dan yang paling suka masak itu nenek jadi aku selalu kangen masakan nenek, utamanya kalau udah masak sayur lodeh atau sayur kacang, beuh..itu tuh ya rasanya pengen nambah..nambah…nambaaahhhh lagi.
Lain nenek lain ayah, nah, kalau ayah saya ini seminggu sebelum hari H suka heboh sendiri plus riweuh enggak ketulungan, berhubung rumah deket masjid dan ayah saya juga suka ikut ngurus masjid jadi pas mau hari Idul Adha suka sibuk hunting sapi sana-sini, data orang-orang yang kurban lah, hingga deg-degan kalau pas udah ashar sapi belum juga dateng. Kalau sapinya udah dateng senengnya minta ampun, kayaknya itu plong banget sampai-sampai kalau mobil yang ngangkut sapi dateng, seisi rumah langsung dikabarin “Sapinya udah dateng..sapinya udah dateng” seakan-akan senengnya kaya nyambut tamu agung -,-“.
Singkatnya, menyambut hari Idul Adha itu udah ada division of labour antara bapak-bapak dan ibu-ibu (kenapa jadi inget teori hirarki struktural fungsionalnya Parson ya?). Ibu-ibu riweuh sama urusan dapur, utamanya buat belanja kebutuhan pangan untuk keesokan harinya, dan bapak-bapak kebagian cek-mengecek keadaan sapi, dimulai dari ngedata orang-orang yang Qurban, mastiin kondisi sapi, hingga mengatur acara takbiran di malam hari plus pas pagi nyiapin tempat buat sholat.
Dan anak-anak?????
Ya itu, kerjaannya kalau kata nenek suka ngarewong alias mengganggu. Maksud nenek di sini, anak-anak jadi suka hilir mudik di dapur utamanya aku yang demen banget ngeliatin orang-orang yang masak, jadi inget dulu aku keukeuh banget pengen ikut bantu-bantu terus nenek ngasih aku tugas buat ngupas kentang, nah kentang itu kan kulit luarnya kotor terus permukaannya itu enggak selalu mulus, alias ada aja titik-titik coklat yang menjorok ke dalam, nah aku coba tuh bersihin tapi dengan cara memotong, bukan mengorek, dan wakhasil kentang yang awalnya sebesar kepalan tangan, jadi tersisa sebesar kerikil, dan ya, mengetahui ini nenek langsung nyuruh aku buat liatin aja, tanpa melakukan apapun.
Hingga, nenek mulai sakit-sakitan dan enggak suka masak lagi, dan ya, nenek meninggal ketika aku kelas dua SMA, dan semuanya berubah.Ya..semuanya berubah. Dulu seakan-akan nenek itu yang jadi komando ibu-ibu dalam acara masak-memasak, karena masak-memasak dilakukan di rumah nenek, tapi sekarang masak-memasak jadi jalan gitu aja tanpa ada komando, meski rumah nenek tetep dijadikan basecamp masak ibu-ibu.
Nah kalau itu cerita masak umum, alias kepentingan hajat hidup orang banyak. Tapi kalau di rumah????
Berhubung makin bertambahnya umur, aku jadi makin suka masak, apalagi ibu bukan tipe orang yang suka masak, dan aku tipe orang yang doyan banget makan jadi kalau nunggu masakan ibu ya…keburu laper duluan dong, ahahaha.Tahun pertama Idul Adha di Bogor itu rasanya sediiihhhhh banget, apalagi waktu itu aku masih tinggal di asrama dan sempet ada konflik dengan teman sekamar karena Idul Adha kita harinya beda, rada malesin juga sih sebenernya, apalagi aku itu tipe orang yang ngehindar banget diajak debat mempertahankan argumen yang ujung-ujungnya tetep argumen dia itu enggak boleh TERBANTAHKAN, lha kalau kayak gini enggak usahlah debat, keyakinan ya urus aja masing-masing. Hingga waktu itu di kampus emang ada dua tempat buat sholat. Jadi yang Idul Adha duluan itu tempatnya di Masjid Al Hur, dan yang ngikut pemerintah (karena pastinya massa lebih banyak) sholatnya di halaman GWW, dan ya, berhubung waktu itu aku belum ketemu IMM jadi aku sholat sendiri ke Al Hur dengan waktu yang bisa dibilang sangat pagi, alias jam setengah enam, demi ngehindarin temen yang terus ngerecokin perbedaan yang emang malesin banget deh buat didengerin.Habis sholat, aku pergi ke tempatnya kenalan Arin (temen SMA yang di IPB juga) di Tanah Kusir tepatnya di villa Kebun Raya atau yang dikenal dengan Kebun Raya Residence (KRR), alesannya sih simple buat ngehindarin cerocosan temen yang tetep keukeuh, meski aku udah ngalah dan ngediemin, dan ya berhubung Arin dan seisi rumah sholatnya itu keesokan harinya, jadi aku kebagian tugas buat jaga rumah, dan ya pas malemnya aku chattingan sama Hana satu-satunya adik tercinta -,-” (orang aku enggak punya adik lagi selain dia) dan dia curhat kalau dia itu lapeeeeeeerrrrr banget karena enggak ada yang masak, soale biasanya itu aku paling demen banget masak kaya bikin sop buntut, bakso, rendang, sapi saus tiram, sapi dimasak asem manis, dll. Apalagi paling heboh itu kalau pas mau bikin sop buntut, beuh itu bersihin bulu-bulu yang ada dibuntutnya itu bener-bener tantangan banget deh, dan berbagai metoda buat bersihin bulu di buntut udah dicoba, dimulai dari bersihin bulunya secara langsung (yang asli, tehnik ini membutuhkan waktu yang sangaaaaaattttt lama), buntutnya di bakar baru bulunya dikerik, sampai (yang ini lumayan cepet) buntutnya itu dimasukkin ke air mendidih terus ya diilangin tuh bulunya (mirip kaya tehnik ngilangin bulu ayam), dan ya, ketika buntut udah bersih dan siap dimasak itu tuh kaya ada kepuasan tersendiri, hehehehh.

Arin
Stres narsis di taman bermain KRR

Jadi, katanya dia itu bener-bener kelaperan. Lha terus saya tanya emang ibu enggak masak, dan dia jawab kalau ibu seperti biasa ngurusin daging buat dibikin kere, dan pas kere digoreng, kerenya malah jadi gosong (ampun, kasian banget dia). Sementara aku di sana kebagian masak daging kambing buat seisi rumah, dan ya aku masak dengan bumbu yang minimalis banget jadi aku cuman masakin kambing kecap bumbu jahe, yang rasanya maknyus banget pokoknya, dan alhamdulillah seisi rumah suka (karena laper dan enggak ada pilihan mungkin,ahahahah). Biasanya kalau dirumah itu aku yang paling diandelin buat masak dan Hana, dia paling pinter bikin minuman, alias jus, meski katanya jus bikinan aku emang yang paling enak (tetep ye narsis).

Tahun ke dua, aku udah ketemu IMM tapi Idul Adha enggak beda, jadi kita sholat di GWW dan siangnya aku bareng kak Akfi ke PDM kota buat bantu-bantu, ya lumayanlah sedikit menghapus kerinduan Idul Adha dengan cara masak bareng ibu-ibu, dan surprisenya pas kita pulang PDM ngasih kita dua keresek daging, yang masing-masing beratnya 1 kg, nah yang satu keresek diambil buat cowo, dan satunya lagi berhubung kak Akfi enggak mau masaknya, jadi daging yang 1 kg itu mutlak jadi punyaku, dan ya aku langsung menghapus kerinduan dengan memasak daging tersebut menjadi rendang, dan berhubung lemari es di kosan rusak, jadi rendangnya itu enggak bertahan lama, walhasil hampir tiap hari rendang jadi cemilan ‘ringan’, berhubung temen-temen kosan pada pulang jadi tuh rendang aku habisin sendiri, ahahaha.

Tahun ketiga, enggak kerasa udah Idul Adha lagi. Dan Idul Adha kali ini bertepatan dengan UTS. Sempet sedih juga sih, apalagi pas ibu nelpon dan nyuruh pulang, kan Idul Adha hari Jumat, lumayan kan Jumat-Minggu bisa di rumah, tapi aku bilang aku ada UTS, meski sebenernya jadual UTS minggu ini cuman dua hari alias Senin dan Selasa doang, tapi kan minggu depannya itu full, lha kalau pulang enggak bakalan tuh ada cerita belajar, jadi ya, dengan BERAT HATI Idul Adha kali ini tetep di Bogor TT_____TT, dan ya ketika ibu tahu kalau aku lagi UTS, ibu malah bilang “Oh lagi UTS, ya udah, kalau gitu enggak usah pulang”,hiksz.

Beraaat…beraaatttt banget sebenernya, tapi ya mau dikata apa, aku mikirnya ya udah lah, toh ini udah jadi keputusan aku buat kuliah di luar kota dan yang penting pas lebaran masih bisa bareng keluarga (meski katanya lebaran tahun depan terancam enggak dirumah, karena jadual KKP) tapi semoga aja meski KKP tetep lebaran masih bisa pulang meski ya cuman ‘seminggu’ di rumah (lho).

Eniwei….

Selamat Hari Raya Idul Adha
Terutama yang ngejalanin bareng keluarga tercinta

Tags: , , ,

2

Ketika Izroil Memanggil

Posted by saniatu.aini10 on 11 October 2012 in Hidup, keluarga |

Di saat ajal kan datang menjelang
Malaikat Izroil mainkan peran
Nyawa tercabut tubuh pun meregang
Allahu Akbar janjiMu telah datang

Lidahpun beku bibirpun membisu
Seluruh tubuh kaku dan membeku
Kenikmatan dunia pun berlalu

Mohon ampunan sudah berlaku
Tiada lagi tempat pertolongan
Kecuali amal dan perbuatan

Semasa hidup membentang zaman
Ridho Illahi yang didambakan
Sebesar dzarrah pun diperhitungkan

Kebaikan yang telah kita amalkan
Sebesar dzarrah pun diperhitungkan
Keburukan yang telah kita lakukan

-Snada-

Kalau ngedenger kata kematian itu rasanya horor banget (hayo ngaku),entah itu horor karena kita kemakan film-film hantu yang nggak jelas atau kita takut menghadapi kematian karena emang kita belum punya persiapan sedikitpun. Tapi lain cerita kalau kita tanya ke orang pengen masuk surga apa enggak,jelas aja bisa dipastiin tuh orang yang kita tanya nggak bakal mikir lama dan langsung ngangguk dengan SANGAT pasti dan penuh keyakinan dengan mata berbinar menjawab ‘MAU’ ya siapa coba yang nggak ngiler kalau diceritain gimana nikmat bin lezatnya jadi penghuni surga,makanan dan minuman enak,suasananya adem jauh dari polusi ama kecelakaan lalulintas (iya tau, emang kemakan berita Afriani),bangunan yang megah-megah,sampei nih ya buat kaum adam konon katanya disediain bidadari-bidadari cantik. Dan karena alesan terakhir inilah yang bikin saya mikir itu kan buat cowo,lha cewe gimana cerita???.

Tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah buat masuk ke surga itu cuma satu cara,ya satu cara kamu harus mati dulu baru bisa masuk,dan hal itu pun berlaku juga sebagai syarat buat kamu yang mau masuk neraka (euleuh,kalau yang ini hanya orang yang nggak waras aja yang mau). Iya,surga dan neraka. Simple sih sebenernya,dua tempat yang udah diciptain Tuhan khusus untuk kita para manusia yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan,dan hasil akhirnya ditentuin entar setelah kita dibagi buku catetan amalan yang telah kita perbuat,terus jalan di sebuah jembatan yang tipis banget kalau nggak salah tipisnya itu setipis rambut dibagi tujuh (iya deh,kalau nggak salah dibagi segitu)dan emang nggak kebayang kan tuh jembatan bakalan setipis apa,apa lagi kalau rambutnya mudah patah,makin horor aja kan buat ngelewatinnya?.

Nah,balik lagi ke ngomongin kematian. Pertama kali tau orang bakalan meninggal itu waktu saya umurnya tiga tahun.Jadi ceritanya kakek dari ibu waktu itu kan sakit sampei nggak bisa ke mana-mana (lha apan namanya juga sakit),iya biasanya saya itu ngeliat kakek saya itu aktif banget pergi ke mana-mana terutama ke pengajian. Udah gitu kan pulangnya malem tapi kakek saya langsung tenggelam bersama mesin ketiknya,saya emang yang masih kecil cuman ngeliatin aja dan berhubung kondisinya kayak gini kakek saya kasian juga kali ya ngeliat saya yang diem sambil ngeliatin gitu aja,dan mulailah kakek saya ngajarin doa-doa sampai surat-surat pendek. Ya saya sih seneng-seneng aja diajarin gitu soalnya kan bahasanya beda ama bahasa yang diomongin saya sehari-hari. Dan ketika kakek saya terbaring sakit,saya sedih banget soalnya nggak ada yang ngajarin doa-doa lagi.

Hingga waktu itu saya inget banget hari Jumat saya lagi bantuin nenek saya bersihin rumput di halaman belakang sambil metikin leunca buat dijadiin lalapan. Eh tiba-tiba bibi saya dari dalem rumah lari sambil nangis-nangis gitu (panik)ngedapetin kondisi kakek yang nggak biasanya,dan seketika itu juga ketika ngedenger itu nenek ngelemparin korednya (sambil mikir,bahasa Indonesianya kored apa ya?)ya pokoknya gitu lah,trus panik deh bibi saya teleponnin-telponnin orang termasuk ibu saya yang masih ngajar,dan ngeliat itu asli saya nggak ngerti kok orang rumah pada panik ya,trus kok pada nangis emang ada apa,apan biasanya di rumah yang suka nangis saya,lha kok ini semua pada nangis terutama nenek yang biasanya kalem kok ini aduh saya makin bingung,ditambah lagi pas ibu saya dateng pun juga dalam keadaan nangis,asli pas kondisi itu saya cuman berdiri ngeliattin semua yang terjadi dan tentunya bingung.

Sementara di depan saya kakek udah terbujur kaku.Pas ngeliat itu saya makin bingung,kok kakek saya diem aja padahal seisi rumah udah pada nangis (kecuali saya yang masih bingung)trus berhubung itu hari Jumat dan kebetulan emang rumah nenek deket masjid jadi sudah dapat dipastikan orang-orang yang udah pada pulang jumatan pada dateng ke rumah,dan dengan kondisi yang sama,nangis.Enggak lama kemudian kakek di mandiin,trus dibungkusin ama kain putih yang panjang banget (waktu itu saya nggak tau nama kainnya apa)trus dibawa deh,pas saya tanya ke ibu saya kakek mau di bawa kemana,ibu saya jawab kakek mau di kubur.Trus kan saya bingung,saya nanya lagi dikubur itu apaan,ibu saya jawab kalau dikubur itu dimasukkin ke tanah. Hingga pas nyampe ke tempat pemakaman kan saya penasaran yang namanya dikubur itu digimanain,eh tapi ibu saya malah nggak mau turun dari mobil begitu pun dengan bibi-bibi saya katanya kalau saya pengen liat ya udah liat aja,ibu nggak bakal turun,gitu katanya.Ya udah berhubung penasaran saya buntuttin tuh orang-orang,hingga singkat cerita saya tahu kalau dikubur itu mirip kayak kita mau nanem pohon,dimasukkin ketanah trus ditimbun lagi sama tanah.

Hingga ibu saya ngejelasin kalau orang yang udah meninggal itu nggak bisa hidup lagi,tapi saya dikasih penjelasan kayak gini malah bingung,kok bisa ya?. Hingga tak lama kematianpun menjemput paman,ya sekitar dua tahun apa satu tahun kemudian lah. Hingga pertanyaan pun muncul,kenapa orang itu harus hidup dan diakhiri dengan kematian? Apakah dengan kematian ini lah satu-satunya cara agar manusia dapat menghadap Tuhan? lantas kalau Tuhan ingin menemui kita kenapa nggak langsung aja,kenapa harus mati dulu. Trus kalau toh ujung-ujungnya mati lantas kenapa kita musti dikasih kehidupan? Apa sih yang diinginkan Tuhan terhadap kita?.

Makanya karena hal ini,saya itu bener-bener nganggep bodoh sama orang yang nggak beragama (Ateis),emang manusia robot apa,ketika batrenya masih bagus hidup,trus kalau batrenya udah habis mati gitu? Nah pasti kan ada hal yang tersembunyi dibalik itu semua,pasti ada yang nyusun semua dan ngerencanain hal-hal yang begitu rapih dibalik kehidupan seseorang,seseorang itu hidup tentunya ya jelas bukan tanpa alasan,bukan tanpa maksud,dan tujuan. Dan yang jadi pertanyaan kita, itu siapa? Siapa yang udah ngatur semuanya? Siapa yang udah nyusun skenario yang begitu rapih? Siapa yang ngerancang kematian seseorang berbeda-beda,entah itu karena sakit lah,ketabrak,tidur terus nggak bangun-bangun,kesamber gledek lagi main bola,dll.Siapa..siapa..dan siapa,dan yang terpenting adalah apa yang Ia inginkan?.

Tapi lagi-lagi saya selalu inget apa yang ibu saya katakan,kalau ini semua nggak bisa diukur oleh akal,ini semua hanya bisa diukur oleh iman,dan itu lah mengapa kita beragama. Ya,kematian emang nggak bisa masuk diakal. Bahkan sepinter-pinternya dokter nggak tahu kan nyawa seseorang itu sampei kapan habisnya,kalau toh misalnya sebuah kematian datang tanpa sebuah rencana sang pemilik rencana,ya diibarattin itu tadi manusia disamain ama robot yang dikasih batre,ya kalau batrenya habis ya udah. Tapi kan ini nggak kayak gitu. Kalau batre robot mulai lemah jelas aja jadi keliatan beda,entah itu kalau robotnya bisa jalan eh jalannya kok jadi lelet,dsb.

Lah masih inget kan,kalau katanya badan kita kepengen sehat itu ya harus olahraga.Intinya kan olahraga buat jaga kesehatan biar nggak sakit,kan kalau sakit trus sakitnya parah kan repot trus akhirnya mati deh masuk tanah buat dikubur.Tapi coba kita pikir ulang,berapa banyak orang yang berada di sekitar kita yang meninggal sehabis olahraga (jelas hubungan sebab akibat nggak ngaruh dalam hal ini),tapi bukan berarti saya misalin kayak gini kita nggak usah olahraga kalau toh ujung-ujungnya juga bakalan mati,tetep olahraga mah harus,pan balik lagi kematian seseorang bergantung pada yang bikin skenario.

Saya jadi inget sebuah kalimat yang ada di film Gie,katanya gini ”

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan,yang ke dua dilahirkan tetapi mati muda,dan yang tersial adalah berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada,berbahagialah dalam ketiadaan”

Tapi justru yang sering kita dapetin kalau ulangtahun itu jelas jauh berbeda. Buktinya aja di lagu ulang tahun ada kalimat “Panjang umurnya..panjang umurnya..panjang umurnya serta mulia..” trus disambung sama orang-orang yang ngasih ucapan “Selamat ulangtahun ya,panjang umur,…..” nah lo,jadi yang bagus itu yang mana,mati muda apa tua? panjang umur atau enggak?.

Eniwei,daripada bingung yang lebih bagus mati muda apa tua,yang terpenting dari semuanya adalah sejauh mana kita udah mempersiapkan diri kita buat ketemu sama pemilik skenario kehidupan,yupsz Tuhan YME.Inget,Tuhan itu memberikan kita kesempatan buat hidup bukan tanpa suatu perencanaan yang sangat matang.Percaya deh pasti Tuhan itu menginginkan sesuatu dari diri kita,kan apan manusia itu makhluk sosial jadi pasti dengan kita punya kesempatan buat hidup kita kan punya kesempatan untuk berinteraksi nih sama banyak orang,nah itu dia. Manusia itu diutus sebagai khalifatul fil ar (eh bener nggak tuh nulisnya? Ya pokoknya itu lah). So everyone itu udah punya cerita hidup masing-masing yang satu pun enggak ada yang mirip sama orang lain (meski dia kembar identik),begitu pun kalau kita balikkin lagi ke halaman terakhir kehidupan,hingga tertulislah kata The End.

Nah lho,kalau yang bunuh diri gimana?. Simple aja sih sebenernya kalau toh emang belum waktunya pasti dia nggak bakalan mati dulu. Misalnya nih dia udah niat banget nyemplung kesumur,eh pas dia nyemplung ternyata tuh sumur nggak dalem-dalem banget,trus dia nggak putus asa dong buat ngejemput kematian akhirnya dia nelen obat banyak-banyak atau Baygon misalnya eh keburu ketahuan ama temennya trus dicekokkin tuh susu kemulutnya dan walhasil semuanya jadi ternetralisir,tapi nih dia belum mau nyerah trus berusaha buat mutusin urat nadi eh pas dia udah nyilet keburu ketahuan,di bawa ke rumah sakit trus selamet,trus nih ya tetep keukeuh pengen mati akhirnya dia berusaha buat gantung diri (padahal daripada gantung diri,mendingan gantungin jemuran biar pada kering)eh pas udah ngalungin tali ke leher ternyata iketan talinya nggak terikat dengan baik alias pas dia mau ngejatuhin diri tuh tali malah copot,dan dia malah jatuh seperti biasa dengan tali yang masih terlingkar di leher. Hayo,tetep urusan halaman terakhir itu ya,yang punya skenario lah,kita tuh cuman jalanin aja apa maunya. Kalau kata Bong Chandra “Nasib itu ada di tangan manusia,takdir itu ada di tangan Tuhan”. Jadi bukan berarti karena udah ada skenarionya kita ,ya nrima-nrima aja,ya enggak gitu juga kali,kan Alloh nggak akan mengubah nasib suatu kaum,sebelum kaum itu berusaha untuk merubahnya.

So selama masih dikasih kesempatan untuk bangun dari tidur nih,berarti Tuhan masih memiliki rencana-rencana dan menuntut kita untuk berperan didalamnya,apapun rencana yang dikasih ke kita entah itu yang bikin banjir air mata atau bikin seneng ampe guling-guling di lapangan ya itu lah rencananya. Itu lah yang Tuhan inginkan dari kita,dan kalau pun kita terjatuh itu tandanya Tuhan menginginkan kita untuk naik tingkat dalam kehidupan,agar kita bisa ngambil pelajaran dari semua yang telah terjadi. Karena bukankah Tuhan memiliki berbagai cara untuk mendewasakan umatnya.

Nb: Banyak pelajaran yang saya ambil tadi siang ketika menghadiri pemakaman teman sewaktu SMA, semoga iman,islamnya diterima di sisi Alloh SWT. Amin.

Tags: , , ,

Copyright © 2012-2017 saniatu.aini10's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.